Daeng Mandong: Penjaga Gunung Bawakaraeng


Kamis malam, 17 agustus 2006. Sudah sepekan warga kota Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, memperingati hari kemerdekaan RI yang ke 61. Seperti lazimnya di berbagai tempat di Indonesia, pelbagai lomba hiburan digelar. Ada lomba makan krupuk, lari karung, panjat pinang dan permainan rakyat lainnya. Malam harinya, juga ada pentas seni. Sebuah panggung berukuran enam kali empat didirikan di lapangan sepakbola Malino, dan menjadi saksi tradisi tahunan yang sangat riuh. Semua warga mengambil bagian. Ada yang melantunkan lagu-lagu pop, dangdut bahkan lagu rock. Tentu saja, tak ketinggalan pula pembacaan puisi-pusi perjuangan dan lagu-lagu kebangsaan.

Warga betul-betul menyambut sukacita perhelatan itu. Lomba demi lomba, pentas demi pentas, disambut dengan gelak tawa dan ramai tepuk tangan. Sesekali suitan-suitan nakal hadir di antara keriuhan itu.

Namun, nun jauh dari keramaian pesta itu, tepatnya di kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa seorang lelaki paruh baya berdiam dalam sepinya alam pegunungan. Ia sepertinya lebih menikmati suara desir angin gunung, ketimbang bergabung bersama penduduk lainnya, berkumpul menikmati pesta HUT Proklamasi di Malino.

Laki-laki berkulit legam ini menyendiri, menggelisahkan Bawakaraeng. Menurutnya, hanya satu hal yang ia tahu: Gunung Bawakaraeng saat ini dalam kondisi sangat krits. “Saya kasihan sama orang-orang, sama warga desa. Mereka tidak ada yang peduli dengan Bawakaraeng. Padahal, sudah terjadi longsor besar. Saya takut, kemungkinan ada longsor besar susulan,” katanya.

***
Namanya Daeng Mandong. Berusia kurang lebih 50 tahun. Dalam 30 tahun terakhir, ia telah mendedikasikan hidupnya menjaga kelestarian alam Gunung Bawakaraeng. Setiap hari Daeng Mandong melakukan aktivitas menanam bibit pohon di kawasan-kawasan curam gunung purba itu. Bibit pohon yang ditanamnya, antara lain Mahoni, Jati, dan pohon-pohon jenis keras lainnya. Sebelum ditanam, bibit-bibit itu disemai di sekitar rumahnya. Daeng Mandong tak ingat persis berapa jumlah bibit yang sudah ditanamnya. Namun, ia menyebutkan kisaran ribuan batang pohon.

Sebagai bentuk balasan dari hasil jerih payahnya ini, ia mendapat honor dari Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa, sebesar Rp150.000 per bulan. Jumlah itu tentu saja tak mencukupi. Namun menurut pengakuan Daeng Mandong, untuk kebutuhan hidupnya, seperti pakaian dan makanan, seringkali diberikan oleh para pendaki yang kebetulan singgah bermalam di rumahnya. Namun jika kebutuhannya sangat mendesak, sekali dalam sepekan, Daeng Mandong pergi berbelanja ke pasar Malino.

Selain menanam bibit pohon, ia menghabiskan malam harinya dengan bercengkrama bersama para pendaki, yang kebanyakan berasal dari kelompok-kelompok pecinta alam. Ia seringkali memberi nasihatnya kepada para anak-anak muda itu, agar tetap menjaga kebersihan lingkungan dan sikap diri, selama melakukan pendakian.

Di pagi hari, sebelum menyemai bibit-bibit pohonnya, Daeng Mandong memiliki kebiasaan naik ke puncak Talung, daratan tertinggi di lembah Ramma. Dari situ, ia memperhatikan jejeran puncak gunung untuk melihat gejala alam yang terjadi. “Dari Talung, kita bisa lihat hampir semua bekas longsoran Bawakaraeng. Kita juga bisa lihat arah longsoran itu,” ujarnya.

Daeng Mandong mengatakan, dirinya tak akan pernah lupa peristiwa longsor di hari Jumat siang, 26 Maret 2004 lalu. Ratusan warga Kampung Lengkese, Desa Manimbahoi, Kecamatan Tinggimoncong, Malino sedang bertani di sawahnya. 32 orang di antaranya tewas tertimbun. Reruntuhan lumpur itu juga menerjang ratusan hektar sawah, rumah serta gedung sekolah.

Saat itu, warga Kampung Lengkese baru saja usai menunaikan shalat Jumat. Sebagian besar laki-laki langsung ke sawah sepulangnya ke rumah. Sebagian lainnya membawa ternak sapi merumput dan sebagian beristirahat atau makan siang lebih dulu di rumah. Menggarap sawah sangat dirindukan warga. Maklum, sekitar dua minggu hujan lebat turun. Karena itu, Jumat yang cerah itu tak ingin mereka sia-siakan, apalagi tanaman padi mereka menjelang panen.

Tak satu pun menduga bahwa sebentar lagi kampung, sawah, kebun, ternak, bahkan keluarga yang mereka cintai dan diri mereka sendiri bakal tertimpa tanah longsor. Tak ada tanda-tanda awal yang biasanya diisyaratkan alam. Ada sedikit tanda, berupa tanah berjatuhan sedikit-sedikit dari tebing, tetapi belum sempat terbaca. Bahkan berselisih hitungan menit sebelum akhirnya kaki hingga sebagian dinding Gunung Bawakaraeng runtuh dan meluluhlantakkan semuanya.

Desa Manimbahoi berada di ngarai, tepat di kaki Gunung Bawakareang, dan di sisi kiri dan kanan hulu Sungai Jeneberang. Menurut Daeng Mandong, ia merasa sedih, karena tak mampu dengan cepat memberitahu warga desa. Gerakan cepat kakinya menuju Desa Manimbahoi, dipotong oleh derasnya longsor yang memiliki panjang 30 kilometer dan ketebalan hingga 400 meter itu. Sebelum peritiwa itu terjadi, ia mendengar suara ledakan yang sangat keras. Diduganya, suara ledakan itu berasal dari tebing gunung bagian bawah yang patah.

***
Daeng Mandong berdiam di Lembah Ramma, tempat yang jauh dari desa terakhir di kaki gunung, Desa Lembanna. Mencapai Lembah Ramma dari Lembanna, hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki, selama kurang lebih lima jam. Medan jalur yang dilalui boleh dikata sangat berat, sempit dengan apitan pepohonan pinus di kedua sisinya. Tempat terpencil itu sebuah lembah yang dikelilingi bukit dan jejeran puncak-puncak Gunung Bawakaraeng.

Komitmen Daeng Mandong begitu kuat. Ia rela meninggalkan desanya, Desa Takappala, dan memilih bertempat tinggal di Lembah Ramma, untuk menjaga totalitas kepeduliannya terhadap lingkungan. Daeng Mandong bercerita, saat itu, 10 tahun lalu, ratusan warga desa mengantarnya ke tempat tinggal yang baru. Bahkan, rumah panggung miliknya juga ikut di boyong, setelah sebelumnya dibongkar dan dipisah-pisahkan.

Rumah panggung itu berukuran empat kali tiga meter. Di dalamnya, terdapat tiga buah ruangan. Ruang tamu yang menyatu dengan dapur, serta sebuah ruang tidur berukuran dua kali satu meter. Jika Daeng Mandong memasak sesuatu, asap perapiannya memenuhi rumah dan mengepul keluar dari lubang-lubang di dinding papan yang rapuh.

Tinggi rumah panggung tidak seberapa. Lantainya, yang terbuat dari papan sedikit tebal, hanya berjarak sekitar semester dari tanah. Namun, ruang itu cukup bagi tiga ekor anjing miliknya, yang sudah dipeliharanya sejak 10 tahun lalu. Binatang-binatang itulah, yang selalu menemani Daeng Mandong dan menjaganya dari serbuan babi hutan, yang kadang menyerang rumah di malam hari.

Dari lembah itu, Daeng Mandong juga mengawasi aktivitas para peternak di lereng-lereng gunung. Kadang, ia membantu peternak yang merupakan warga dari sejumlah desa yang ada di sekitar kaki gunung, menambatkan binatang ternaknya dan memberikan makan. Sosok Daeng Mandong sangat berarti bagi warga desa. Karena ia menjadi pemberi informasi awal bagi para warga di sekitar kaki gunung, jika terjadi gejala alam yang membahayakan jiwa mereka. Dari informasinya itulah, warga memutuskan apakah akan tetap melakukan kegiatan bertani dan berternak, atau tidak.

Selain warga desa, Daeng Mandong juga ternyata menjadi Rescue Team dadakan, jika ada diantara pendaki Gunung Bawakaraeng yang mengalami musibah. Seperti kehilangan jalur atau tewas karena terjatuh di jurang. Wawa, Ketua Mahasiswa Pencinta Alam STIKOM Fajar, mengisahkan, timnya pernah dibantu Daeng Mandong untuk mencari seorang kawannya yang terjatuh di jurang di kawasan Lembah Loe, sekitar tahun 2002 lalu. “Luar biasa. Hanya dalam sehari, Tata’ Mandong bisa menemukan jenazah kawan saya itu,” ungkap Wawa.

Para pendaki itu sering memanggil Daeng Mandong dengan sebutan Tata’, Bahasa Makassar yang artinya Bapak. Sebutan itu, diartikan sebagai sapaan penghormatan mereka kepada Daeng Mandong.

***
Daeng Mandong bercerita, selain kondisi Gunung Bawakaraeng, masih ada satu hal lagi yang mengganjal pikirannya. Meski sudah 10 tahun, ia masih memikirkan keberadaan istri dan anaknya. Tahun 1986 lalu, Daeng Mandong harus menerima kenyataan pahit. Sang istri, Maniah, menuntut cerai suaminya itu, karena tak tahan dengan kondisi kemiskinan yang dialami keluarga mereka.

Gaji dari pekerjaan Daeng Mandong sebagai penanam bibit pohon, tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga. Maniah, akhirnya pergi dan membawa serta puteri semata wayang mereka, Fatimah, ke Makassar. Perpisahan itu, ternyata makin memompa semangat Daeng Mandong. Di tahun yang sama, ia memutuskan pindah dari desanya di Desa Takappala, dan memilih hidup sendiri di Lembah Ramma.

Sampai saat ini, Daeng Mandong tak mengetahui keberadaan mereka. Laki-laki itu, tetap menyimpan kerinduan. “Punna nakulle sallang, nia se’re wattu, lakuboya ngasengngi,” katanya. Yang artinya, kalau ada waktu saya ingin mencari mereka… [www.panyingkul.com]

Advertisements

~ by thalibanspirit on 04/02/2007.

3 Responses to “Daeng Mandong: Penjaga Gunung Bawakaraeng”

  1. Tata Mandong adalah seorang figur pecinta alam dan lingkungan tanpa gelar dan status. dia juga adalahbapak sekaligus teman yang dapat menghibur bagi yang merasa kesepian, dan dia juga adalah pahlawan bagi warga kaki gunung bawakaraeng dan pecinta alam makassar. dari yang mengenalmu tata’

  2. mari kita belajar dari org spti tata,dedikasikan hdup demi lingkungan yg kta cintai,khususx bwt bpk2 pejabat,PIKIRKAN negara,jgn cuman urus proyek

  3. salut sama Tara Mandong 🙂 (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: