Es Cendol Sunu: Enak Tapi Banyak Punglinya


 cendol3.jpg

Belum sore betul, ketika lima orang berseragam Bank BNI, tergesa-gesa masuk ke warung es cendol milik Isa. Sambil cekikikan mereka mengambil kursi, kemudian langsung duduk santai. Kelimanya riuh bercengkrama sambil memesan minuman masing-masing. Ada yang memesan es cendol, es buah campur, dan es pisang hijau. Ini terjadi sebelum bulan puasa tiba.

Tepat di depan warung, Jalan Sunu masih bising dengan suara kendaraan bermotor yang mengalami kemacetan. Asap knalpot menyeruak di antara tenda-tenda penjual es cendol. Jadilah para penikmat es cendol itu, sesekali megibaskan tangan atau menutup hidung, saat memuaskan dahaganya.

Kemacetan memang menjadi penyakit baru di daerah itu, semenjak bisnis ini mulai muncul di situ lima tahun lalu. Setiap hari, khususnya pada jam pulang kerja, ratusan kendaraan memadat di sepanjang Jalan Sunu. Kemacetan disebabkan badan jalan tak mampu menampung jumlah kendaraan yang melintas saat jam kerja usai, plus kendaraan milik penikmat es cendol yang terparkir di sepanjang jalan.

Para pedagang itu memanfaatkan trotoar Jalan Sunu, tepat di samping halaman Masjid Al Markaz. Sampai saat ini, terdapat kurang lebih 30-an tenda. Akan tetapi, tidak semua tenda itu memperdagangkan es cendol dan es buah saja. Ada sejumlah pedagang lainnya yang menjual gorengan, seperti pisang, ubi dan tahu goreng. Namun, pusat jajanan es itu, juga dicampuri tenda pencucian motor serta penjualan koran dan pakaian.

“Banyak juga yang berjualan di sini. Tapi, kan orang sudah tahu di sini pusat penjualan cendol dan es buah. Sama seperti di Jalan Sungai Cerekang, terkenal sebagai tempat penjual sarabba,” ujar Isa, yang mulai berjualan cendol sejak tahun 2002.

Isa tak tahu persis bagaimana hingga pedagang es cendol dan pedagang lainnya, berjamuran di tempat itu. Yang ia ketahui, penjual es cendol pertama adalah Hajjah Baji, yang menjual sejak tahun 2001. Penjual yang dimaksud itu menempati tenda nomor 19. Sementara Isa sendiri menempati tenda nomor 20.

Perempuan beranak tiga ini, memutuskan menjual cendol di tempat itu, setelah melihat es cendol Hajjah Baji sangat diminati. Selama setahun diperhatikannya, Hajjah Baji, ternyata bisa mengumpulkan ratusan calon pembeli setiap hari. Tentu saja, dengan profit yang lumayan, bisa mencapai ratusan ribu rupiah perhari.

Ia menyebutkan, bermacam menu minuman berharga murah tersedia di tempat ini. Es cendol misalnya, berharga Rp1.500 per gelas. Sementara es pisang hijau, es buah, es buah plus es cendol, berharga Rp2.000. “Sangat murah. Daripada membeli es buah di mal, harganya mahal sekali,” katanya.

Bahan baku penganan dan minuman itu, dibuat sendiri oleh penjualnya. Isa misalnya, setiap hari menghabiskan antara 1,5 hingga 3 kg tepung untuk membuat es cendol dan pisang hijau. Jumlah itu, sangat cukup untuk memenuhi permintaan konsumen yang mencapai minimal 50 orang. Namun pada hari Jumat, Isa biasanya meningkatkan jumlah produksinya hingga 500 gelas, karena banyaknya pembeli usai shalat Jumat di Masjid Al Markaz.

Ketika bulan Ramadhan tiba, permintaan es cendol naik drastis. Seperti tahun-tahun lalu, Isa akan meningkatkan produksinya hingga lima kali lipat dibanding bulan-bulan biasa. Ia sudah membayangkan berlimpah keuntungan yang dapat diraihnya. Namun, untuk itu ia berencana menambah tenaga dari keluarganya sendiri untuk membantunya. “Tidak bisa kerja sendiri di bulan puasa, Pak,” ungkapnya.

Ada keasyikan tersendiri melihat deretan pedagang es cendol ini. Jika saatnya tiba untuk menjual, biasanya mereka tampil dengan riasan wajah yang “wah”. Baik yang muda maupun yang sudah tua, semua ingin tampil menarik. Hampir sebagian besar pedagang menggunakan pakaian agak “menantang”. Mungkin mereka menanggap ini bagian dari kiat menarik calon pembeli.

Ada satu hal yang diresahkan para pedagang es cendol. Mereka selalu khawatir setiap saat akan digusur oleh pemerintah kota. Pasalnya, semua tenda-tenda jualan itu, tak satu pun yang memiliki izin operasi.

Situasi itu ternyata diketahui oleh sejumlah orang yang tak bertanggungjawab. Mengatasnamakan lembaga tertentu, mereka kemudian melakukan aksi pungli (pungutan liar) ke pedagang. Pelaku pungli itu, popular disebut pa’tekeng-tekeng.

Jumlahnya pungli bervariasi, antara Rp5.000 hingga Rp50.000. Bahkan, sekali waktu, mereka pernah membayar pungli sebesar Rp100.000. Pengakuan tukang pungli itu, para pedagang akan dibuatkan semacam kartu anggota, agar tidak kena gusur. “Berapami orang datang ke sini. Ada yang minta uang keamanan, uang retribusi pasar, uang inilah, uang itulah. Bahkan ada dari petugas kelurahan,” keluh para pedagang (p!)

Advertisements

~ by thalibanspirit on 04/02/2007.

2 Responses to “Es Cendol Sunu: Enak Tapi Banyak Punglinya”

  1. kasian memang kodong pedagang selalu jadi korban pungli

  2. kasihan kodong memang pedagang kecil selalu jadi korban pungli, ambil mua mi itu………………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: