Dari Makassar, Ichwan Memboyong ‘Freehand’ ke Jakarta


 ichwan.jpg

Sebuah rumah kontrakan berukuran kecil di bilangan Cilandak Jakarta Selatan. Salah satu kamarnya disulap menjadi ruang menonton, poster-poster film memenuhi dinding, naskah film tergeletak di lantai, dan di sini saya bertemu tiga anak muda dari Makassar dengan semangat kerja membumbung tinggi. Dari rumah kecil itulah bendera Freehand Communication dikibarkan. Ini nama sebuah perusahaan promosi film yang dirintis di Makassar oleh Ichwan Persada.

Kini, dengan modal keyakinan, pengalaman, jaringan kerja serta strategi, Ichwan bersama temannya, Ahmad Gergy dan Boraq Cambuq mencoba menunjukkan kemampuan mengembangkan perusahaan ini. Bukan hal yang lazim memang. Umumnya, anak-anak muda berangkat ke Jakarta mencari kerja. Ichwan justru hijrah ke ibukota untuk menjalankan perusahaannya ini.Di suatu malam, saya ikut menikmati kenyamanan ruang menonton di rumah kecil itu. Mereka menyebutnya ‘Studio Dua’. Sebuah kamar tidur berukuran tiga kali tiga meter. Letaknya tepat di sisi kiri ruang tamu. Kamar tidur itu dimodifikasi agar suasana menonton film menjadi serupa di ruang bioskop. Mereka menggunakan perangkat satu laptop sebagai pemutar cakram film, sekaligus layar nonton.

Untuk lebih mendukung suasana, hadir juga perangkat audio berkekuatan lumayan besar. Lampu noen 10 watt juga dimatikan. Jadilah, kamar itu seperti bisokop sungguhan. Apalagi tidak boleh merokok dan menerima telepon di dalam. Tapi tentu saja, tak ada tumpahan popcorn dan kursi merah yang berjejer.

Malam itu kami menonton “Apocalypto” yang disutradarai Mel Gibson, selama dua jam.
***

Rumah bercat putih itu tak seberapa besar. Mungkin sedikit lebih kecil dari tipe 36. Letaknya sekitar 30 meter dari badan Jalan Pangeran Antasari, Cilandak, Jakarta Selatan. Agak sulit untuk menemukannya. Karena rumah itu, terjepit di tengah-tengah rumah penduduk lainnya. Dua kelokan lorong kecil harus dilalui, untuk menuju ke sana.

Memasuki rumah itu, saya disambut puluhan poster film yang tertempel di dinding ruang tamu. Tidak ada meja dan kursi. Hanya empat buah lemari berukuran sedang yang berjejer di situ. Ratusan dokumen, majalah dan koran ditumpuk di satu lemari. Buku-buku, di lemari lainnya. Sementara dua lemari lagi diisi cakram film jenis DVD. Ada sekitar 600 judul film Indonesia dan asing, dari berbagai genre.

Sepintas ruangan itu sama sekali tak menggambarkan suasana sebuah kantor. Untung saja terdapat satu unit komputer dan satu mesin faks. Andai tidak, sulit bagi saya mengatakan ini adalah tempat kerja dan lebih mengira ini sekadar tempat kumpul anak muda. Terlebih, tak ada papan nama perusahaan di depan rumah itu.

Namun siapa sangka, dari ruangan kecil itu, tergantung harapan sejumlah produser dan pelaku film di negeri ini. Suatu harapan, bahwa film mereka akan disaksikan jutaan penonton.

Di ruangan itulah, Ichwan bersama beberapa kawannya mengatur strategi promosi sebuah film. Setelah film selesai dibuat, mereka yang kemudian bertanggungjawab untuk memperkenalkan film itu ke masyarakat luas.

Pekerja promosi film ini lebih dikenal dengan sebutan Film Publicist. Mereka bertanggung jawab untuk mendongkrak jumlah penonton, sehingga mencapai target sesuai keinginan pihak produser. Di Indonesia, parameter kesuksesan sebuah film diukur dari jumlah penonton yang menyaksikan film tersebut. “Standar jumlah penonton film di Indonesia antara lima ratus ribu hingga satu juta orang,” kata Ichwan.

Menurut anak muda berkulit legam ini, salah satu cara untuk meningkatkan jumlah penonton adalah dengan mengadakan tur promosi di daerah-daerah. Mereka melakukan roadshow, dengan mengikutsertakan aktris dan aktor film itu untuk dipertemukan langsung dengan penggemar-penggemarnya. Selain di kampus-kampus, biasanya promosi dilakukan di sejumlah mal ternama di berbagai kota.

Ada banyak cara promosi yang mereka terapkan selain kegiatan jumpa fans dan jumpa pers, jelas alumni SMAN 2 Makassar itu. Antara lain, mereka menggelar games di pusat-pusat keramaian, membagikan cindera mata dan brosur, atau menempelkan poster-poster di tempat-tempat strategis. Tugas mereka tidak itu saja, mereka juga yang membuat jadwal wawancara, media release, dan menegosiasi media untuk menjalin kerjasama promosi. Pihak bioskop juga menjadi salah satu pihak yang wajib mereka hubungi. Secara berkala, publicist harus menanyakan jumlah penjualan tiket.

“Pekerjaan ini sangat tidak mudah,” aku Ichwan. Dibutuhkan mental dan fisik yang kuat. Dan tentu saja pemikiran serta kreativitas yang optimal. Jika tidak, klien mereka tidak sungkan-sungkan mengajukan keberatan atas kinerja kerja mereka, bahkan memutuskan kontrak kerjasama secara sepihak. Meski begitu, dalam prosesnya, publicist tidak serta merta bekerja sendiri. Mereka terus mengadakan diskusi dengan pihak produser, untuk memastikan bahwa kinerja mereka membawa hasil.

Lantas, mengapa Ichwan dan kawan-kawannya memilih lahan kerja ini? Ichwan sambil tersenyum menjawabnya. Katanya ‘upah’ yang didapat sepantaran dengan proses kerja keras itu. Meski menolak menyebut angka, ia mengakui pembayaran jasa promo film itu jumlahnya luar biasa.

***
Kecintaan Ichwan pada dunia film memang tak diragukan. Jika sebagian besar orang mengaitkan film dengan aktor, aktris, penulis skenario atau sutradara, Ichwan lain lagi. Apresiasinya kepada film, ia tunjukkan melalui jalur promosi.

Dia suka film, tapi tak suka bermain film. Ketertarikannya pada film sudah ditunjukkan sejak masih kelas tiga SD, tahun 1986. Saat itu, pemuda yang pernah mengecap pendidikan di Fakultas Kedokteran Unhas ini, masih tinggal bersama orang tuanya di kota Mamasa, Kabupaten Polewali [kini sudah berubah menjadi Propinsi Sulawesi Barat].

Ichwan mengisahkan, ayahnya yang dulu bekerja sebagai Kakandep Pendidikan di daerah itu, seringkali berkunjung Makassar dalam rangka tugas. Di saat itulah, Ichwan kecil, sering menitip kepada ayahnya untuk dibelikan majalah “Film”. Majalah itu tak biasa bagi anak-anak seumurnya, yang lebih senang membaca Bobo dan komik. Dia juga selalu membujuk ayahnya, untuk menonton film di bioskop satu-satunya di Mamasa. “Nda’ tau ya, ada semacam kepuasan tersendiri setelah menonton film di bioskop. Dibanding, misalnya, saya pergi main sama teman sekolah,” ujarnya mengenang masa itu.
Masuk SMP, ketertarikannya semakin menguat.

Ichwan tak hanya sekedar menonton. Dia mulai serius memerhatikan unsur-unsur film secara detail. Mulai dari judul, alur cerita, penokohan, sudut pengambilan gambar, proses dan biaya produksi, hingga hal yang jarang diperhatikan orang, credit title film. Ketika remaja, ia mulai membandingkan satu film dengan film lainnya. Di saat teman-teman sekolahnya yang lain baru belajar mengarang, dia sudah berkutat dengan resensi. Tak terhitung berapa resensi film yang dibuatnya saat itu.

Begitulah kebiasaannya yang terus berlangsung, hingga memutuskan melanjutan pendidikan di SMA 2 Makassar, lalu Fakultas Kedokteran Unhas. Di Makassar, ia malah wajib mengunjungi bioskop minimal dua kali sepekan. Di masa ini, resensi filmnya sudah dimuat di beberapa media nasional dan lokal Makassar.

Sepanjang tahun 1999 hingga 2002, selain kuliah, dia juga bekerja di beberapa radio di Makassar: Sonata, Telstar dan Programa 2 RRI. Pergaulannya dengan insan-insan radio mematangkan wawasan perfilmannya. “Saya mendapat banyak referensi dari kawan-kawan,” ujar Ichwan seraya berusaha mengingat kawan-kawan yang memberinya kontribusi pengetahuan film.

Pada tahun 2003, Ichwan bekerja di sebuah perusahaan jasa komunikasi –terkenal dengan sebutan telepon gaul. Pekerjaan itu ternyata memberinya kesempatan mendalami dunia film. Bukan dalam bidang akting, tetapi manajemen produksi film. Saat itu dia belum mempunyai gambaran jelas apa yang akan dilakukannya. Namun, langkah awal yang diambilnya adalah mendirikan sebuah Event Organiser [EO] atau penyelenggara acara. Dia mengajak sejumlah kawan-kawan sekantornya. EO itu diberi nama Freehand Communication.

Inilah mungkin yang menjadi tonggak awal keseriusannya di ranah promo film. Bermodalkan kepercayaan diri, dia mencoba menelepon SinemArt. Sebuah rumah produksi di Jakarta, yang baru saja menyelesaikan produksi film Mengejar Matahari. Bersamaan dengan itu, anak muda ini juga menghubungi rumah produksi lain, Jose Purnomo Films, yang memproduksi film Tak Biasa. Kepada kedua rumah produski itu, Ichwan menawarkan kerjasama yang tidak biasa: sebuah EO siap mempromosikan film di Makassar tanpa dibayar!

Tawaran itu tentu saja disambut hangat kedua pihak rumah produksi tersebut. Freehand Communication pun menyiapkan segala sesuatunya. Namun, mungkin karena meragukan profesionalitas Freehand, atau justru iba dengan tawaran kerja gratisnya, kedua rumah produksi itu hanya menugaskan Ichwan dan kawan-kawan membagi-bagi poster dan merchandise.

Anak-anak muda itu tak kecewa dan berputus asa. Setahun kemudian, mereka mulai sedikit berani. Tarif pun ditetapkan. Kerja sama promo ditawarkan ke film Brownies. Hasilnya, bayaran pertama atas jasa mulus diterima. Mereka mendapat honor satu juta rupiah atas jasa promosi yang dilakukan bagi film ini. Ichwan mengenang, ketika itu mereka senangnya bukan kepalang.

Melihat hasil kerjanya yang lumayan bagus, beberapa rumah produksi pun tertarik bekerjasama dengan Freehand. Kini bayaran yang diperoleh Freehand pun meningkat berlipat-lipat.

Selanjutnya, 15 judul film menyusul ditangani Ichwan dan teman-temannya. Tentu saja banderol jasa tidak lagi gratis, tetapi mencapai nominal dua digit dalam juta rupiah.

Bulan November 2005, Ichwan memutuskan memboyong Freehand ke Jakarta. Sayangnya hanya sedikit saja kawannya yang menyanggupi ikut. Di awal perjalanan usahanya di Jakarta, Ichwan mengakui banyak mendapat rintangan berat. Misalnya, lima kompetitor yang sudah lama eksis di Jakarta. Satu hal yang menguntungkannya, bahwa dia sudah cukup baik memelihara jaringan, dengan beberapa rumah produksi yang pernah berkerjasama dengannya.

Kerja kerasnya berbuah hasil. Sepanjang perjalanannya, dari tahun 2003 hingga sekarang, Freehand telah berhasil menggelar promosi untuk 23 judul film. Promo tidak dilakukan hanya di kota Makassar, tapi juga di sejumlah kota-kota besar lainnya.

Kredibilitas Freehand bahkan betul-betul diperhitungkan oleh produser film Jakarta. Proyek teranyar yang mereka kerjakan adalah promo film Jakarta Undercover, yang sampai saat ini masih diputar di beberapa bioskop Indonesia.

***

Ichwan mengatakan, menjadi film publicist benar-benar adalah pekerjaan yang menantang sekaligus mengasyikkan. Menantang karena mereka dihadapkan hanya pada dua pilihan, sukses atau gagal. Mengasyikkan, karena mereka memiliki kesempatan bertemu langsung dan berdiskusi dengan banyak orang terkenal. Meski harus bersaing dengan publicist lainnya, tapi Ichwan justru secara jeli memanfaatkan persaingan itu secara sehat, dan melihatnya sebagai pemicu semangat kerja serta tantangan untuk memperluas jaringan.

Tapi dari semuanya, yang benar-benar memuaskan adalah, jika film yang mereka tangani disaksikan jutaan penonton. Proyek film Heart adalah salah satu puncak kepuasan itu. Setelah bekerja keras, mereka mampu mendongkrak jumlah penonton hingga mencapai 1,3 juta orang. Tapi, mereka sempat juga kecewa dengan perolehan film I Love You, Om.

“Saya pikir, kami gagal di proyek itu,” kata Ichwan.

Belakangan ini, Freehand mulai mengembangkan sayap usaha. Sembari memantapkan bidang film publicist yang telah dirintis, rencananya di pertengahan tahun ini, mereka juga akan merambah dunia artis Indonesia. Sebuah divisi kini dipersiapkan sebagai ‘artist publicist management’.

Menurut Ichwan, konsep ini lebih ke personal artis. “Kurang lebih sama dengan manajemen artis, tapi lebih serius,” tandasnya. [www.panyingkul.com]

Advertisements

~ by thalibanspirit on 04/17/2007.

2 Responses to “Dari Makassar, Ichwan Memboyong ‘Freehand’ ke Jakarta”

  1. selamat aja ya buat freehand nya yg “baru”.. semoga bisa lebih baik dari waktu ke waktu..

  2. saya pesimis freehand bisa lebih baik… sinyo ngerti maksud saya toh? heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: