Festival Grafis Indonesia: 1001 Desain, 1001 Pesan


 deain-grafis.jpg

Wajah prajurit China itu sumringah. Tangan kanannya mengacungkan sebuah buku kecil berwarna merah: sebuah visa kunjungan ke luar negeri. Dia tampak membelakangi –dan seperti berjalan meninggalkan– sebuah kota yang bising: lalu lintas padat berseliweran, pabrik-pabrik mengepulkan asap pembuangan, dan gedung-gedung berlomba untuk mencakar langit.

Saat saya asyik mengamati desain lainnya, situasi sebaliknya terjadi tak jauh dari desain prajurit China itu. Tampak Puluhan ekor katak hijau berjejer rapi dalam suasana senyap. Mulut mereka terkatup. Mata mereka awas, tak berkedip, memandangi tumpukan kartu remi. Mungkin karena terlalu lama menatap, mata mereka pun memerah.

Katak-katak itu diam saja, meski ada berpuluh laki-laki bertubuh kecil membawa busur panah. Para lelaki itu mengamuk dengan menembakkan anak panah ke betis dua pasang kaki raksasa, yang bagian atasnya bukanlah potongan tubuh manusia, tetapi dua buah mobil sedan berwarna oranye. Mobil itu seperti ditumpukkan begitu saja di bagian pinggang.

Ratusan orang yang berada di sana menikmati pemandangan itu. Bahkan berdecak kagum dan memberikan pujian. Sesekali, setiap dari mereka berbicara dengan beberapa orang di sampingnya. Saya mendengar orang-orang tersebut, berdiskusi tentang betapa berharganya nilai sebuah karya seni yang otentik. Dan, betapa rumitnya proses kreatif yang harus dilalui, untuk menghasilkan sebuah karya seni yang baik.

Gambaran di atas: prajurit China, katak dan dua pasang kaki jenjang, bukanlah kisah nyata. Melainkan, karya-karya seni grafis. Ketiganya adalah bagian dari ribuan gambar desain sampul majalah Concept, sebuah majalah bertema desain grafis, yang dipamerkan di acara eksebisi bertajuk 1001 Inspiration Design Festival, yang saya kunjungi. Pameran tersebut berlangsung selama sepekan (20-26 April), di Plaza Senayan dan Plaza Senayan City, Jakarta.

Perhelatan ini sungguh istimewa karena saya bisa menyaksikan ribuan desain, karya desainer grafis muda Indonesia dalam satu event eksebisi. Jumlah 1001 desain sampul untuk 1 edisi penerbitan majalah, agaknya suatu rekor tersendiri. Desain-desain itu dicetak di atas kertas berukuran 1×1,5 meter dan ditempelkan di beberapa backdrop [papan latar]. Tidak semua desain itu berukuran besar. Beberapa di antaranya dicetak seukuran kartu pos. Namun, untuk keperluan penilaian dari Tim Museum Rekor Indonesia [MURI], pihak majalah Concept mencetak 1001 eksamplar majalah yang berisi sama, namun berbeda desain sampul.

Di waktu tertentu, pameran itu juga diisi dengan acara talkshow perfilman, animasi dan karya sastra. Beberapa pembicara yang diundang, antara lain bintang film Luna Maya, penulis Moammar Emka dan beberapa aktris Road-Graffity.

Yang menarik adalah, konsep yang ditawarkan para desainer grafis usia muda ini, umumnya desain tradisional tetapi dengan balutan perspektif kontemporer. Para desainer itu sepertinya berusaha merepresentasikan suatu pemaknaan bahwa, kita berada di suatu posisi, di mana entitas kebudayaan kita mengalami ‘keterancaman’ di tengah-tengah arus kuat modernisasi global.

Tiliklah misalnya, bagaimana salah seorang perancang menempatkan sosok Gareng dengan pernak-pernik simbol materialisme masa kini. Gareng terlihat bingung melakukan aktivitasnya, meski di lehernya tergantung kamera digital, lubang telinganya tertutup earphone iPod, sementara jemarinya sibuk dengan laptop.

Karakteristik ke-Indonesia-an memang terasa kuat dalam pola desain-desain itu. Tak sedikit yang menggunakan pola dan warna batik. Dan, mereka menggambarkan berpuluh-puluh topeng barong Bali dalam perspektif yang berbeda. Ada semacam tekanan kekerasan, sementara di sisi lain unsur kelembutan tak kalah mencuatnya. Desain-desain topeng itu merepresentasikan ketakutan, sekaligus keberanian dan kepahlawanan.

Saya hanya bisa tersenyum, melihat sebuah sampul bergambar pertempuran hebat antara Gatotkaca dan Superman. Sama menariknya dengan gambar foto Monalisa yang berkonde Jawa dan berkebaya. Apakah desain ini menempatkan kita, bangsa Indonesia, yang bertaruh mempertahankan identitas kebangsaan? Atau justru sebaliknya, rakyat Indonesia sebenarnya berada dalam kerancuan ciri?

Ada upaya untuk bersikap kritis atas fenomena sosial ekonomi, seperti tergambar pada wajah seorang lelaki yang berkumis barcode menjadi simbol yang tepat. Kemanusiaan telah didominasi oleh prinsip dagang: untung atau rugi. Kita diajak untuk mengabaikan naluri, kemudian menilai kehidupan berdasar pada deretan angka.

Mungkin karena dominasi jiwa mudanya, para desainer ini umumnya menampilkan obyek grafis dengan tema futuristik namun ironi. Mereka cenderung menampilkan tema dalam sebuah ‘artwork’ yang ‘dark’, ‘psychedelic’ dan ‘creepy’. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa permainan warna cerah juga mendominasi komposisi. Tapi kurang memberikan penekanan pada unsur tipografi.

Selain menampilkan 1001 karya visual grafis, festival juga mengikutsertakan 20 karya desainer-desainer Inggris untuk dipamerkan. Mereka antara lain Tom Dixon, Ben Wilson, Shaune Leane dan arsitek Zaha Hadid. Pameran Love & Money: The Best of British Design ini, menampilkan karya berupa desain grafis, digital media, fashion, desain produk dan arsitektur. Karya-karya itu menantang kita untuk merenungkan dan mendefenisikan ulang fungsi, ruang, waktu maupun konteks budaya tempat kerja desain itu hadir.

Saya sempat melihat-lihat profil surat kabar The Guardian. Koran ini menawarkan karakter desain yang menyuarakan jurnalisme liberal. The Guardian melakukan peluncuran desain baru pada tahun 2006, dengan memasukkan sejumlah inovasi untuk menjawab perubahan kebiasaan membaca pembaca koran yang sering dikejar waktu.

Lalu saya ‘mengunjungi’ Jamie Hawlett. Saya tidak mengenal sosoknya, namun saya sangat akrab dengan kelompok musik virtual yang dibuatnya: The Gorillaz. Kelompok yang seringkali tampil di MTV ini, terdiri dari empat karakter animasi. Baru pada tahun 2005 The Gorillaz pertama kali tampil “langsung” di depan penggemarnya, di atas panggung penghargaan MTV di Lisbon, setelah sebelumnya mereka hanya bisa disaksikan di internet.

Festival ini pun tak kurang memberi pengetahuan bagi saya, bahwa Penguin Book dibuat karena pengarangnya, Allen Lane, melihat banyak sekali orang yang kebingungan menghabiskan waktu di stasiun kereta api. Seri buku saku Penguin pertama kali diluncurkan pada ulang tahunnya yang ke-70 di tahun 2005 lalu. Untuk penerbitan ini, sejumlah seniman diminta untuk mendesain cerita dengan sebebas-bebasnya.

***

desain2.jpg 

Berada di tengah ribuan karya desain grafis itu, saya menemukan keasyikan tersendiri. Di satu sisi, saya tidak menduga ternyata banyak anak muda Indonesia yang cerdas mengapresiasikan kondisi kekinian dengan grafis visual tingkat tinggi –setidak-tidaknya menurut standar pemahaman saya. Ada ketakjuban, di tengah-tengah berondongan wacana pesimisme terhadap potensi bangsa sendiri.

Selama tiga hari saya mengunjunginya tanpa pernah bosan. Mungkin saya mengalami eforia dengan meriahnya acara yang setiap harinya dihadiri ribuan orang ini. Lalu saya mengimpikan anak-anak muda Makassar juga mengaryakan potensi grafis yang dimilikinya.(www.panyingkul.com)

Advertisements

~ by thalibanspirit on 05/06/2007.

One Response to “Festival Grafis Indonesia: 1001 Desain, 1001 Pesan”

  1. hmm,..bnyak omset yg mengalir dong,…hha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: