Sahabat Pengintai di Tanah Maluku


opinijuni.jpg 

Perairan Tanjung Ambon tampak tenang. Pagi baru saja usai, dan angin timur yang memasuki awal musim di bulan Mei 2005, berhembus pelan. Sebuah perahu motor dengan kecepatan tinggi membelah hamparan laut biru, meninggalkan satu garis putih. Dari arah haluan, air tak henti memercik wajah para penumpang. Silih berganti dengan terpaan angin yang mengacaukan rambut mereka.

Dua jam sebelumnya para penumpang perahu masih bercengkrama di warung kopi depan kantor Harian Ambon Ekspres. Keasyikan itu berlangsung hingga tepat pukul sembilan pagi, ketika seorang aparat intelijen sahabat mereka mengirim sebuah pesan melalui sms. Pesan itu singkat saja: “tadi malam enam anggota BKO Brimob Kaltim tewas tertembak di Pulau Seram”.

Laut Maluku bisa tetap tenang. Tetapi tidak dengan kesembilan jurnalis televisi di atas perahu motor itu. Hati mereka berkecamuk hebat; serupa bising mesin. Ketidakpastian perihal apa yang bakal dihadapi, dan irama perjalanan yang rasa-rasanya tak kunjung usai, menambah resah .

“Abang, masi lama ka?” Seorang di antaranya bertanya.
“Seng! Sadiki lai,” Jawab sang juru mudi tak acuh.

Perahu motor masih bergoncang hebat, ketika para pewarta itu mulai sibuk menelpon kantor redaksi masing-masing di Jakarta. Mereka umumnya meminta agar peristiwa yang sedang dikejar ini dapat ditayangkan di program buletin berita sore, hari itu juga. Namun mereka sama sekali tidak mau berspekulasi dengan kebenaran informasi itu.

Tidak lama lagi kapal motor merapat ke dermaga. Di kejauhan, ratusan petugas kepolisian Polres Pulau Ambon & Pulau-Pulau Lease dan Detasemen Khusus Anti Teror 88 Polda Maluku, terlihat siaga di bibir pantai Pulau Seram. Di atas perahu, Kamaluddin Rahman, Koresponden Trans7 yang bertugas di Ambon, mengatakan kepada redakturnya di Jakarta: “Mas, nanti sekitar pukul empat baru saya hubungi kembali. Sebentar lagi, sinyal akan putus….”

***

Kulitnya putih bersih, dengan wajah yang memudahkan saya menebaknya sebagai pribadi yang ramah. Tutur bicaranya halus; seperti sikap orang Jawa pada umumnya. Laki-laki itu berselera humor tinggi; sangat suka tertawa, sehingga acapkali mengguncang jemarinya yang menggenggam sekaleng susu instan cap Beruang — belakangan saya mengetahui susu instan itu adalah minuman favoritnya.

Tak sedikit pun saya menemui potongan militer yang terkesan tegas dan formal, kecuali pada perawakan tinggi-besarnya. Padahal dia adalah salah satu dari ribuan aparat yang mengambil bagian dalam menjaga situasi keamanan Maluku pasca kerusuhan dulu sebagai intelijen. Di awal perkenalan –tentunya kepada saya pun dia harus merahasiakan identitas sebenarnya– dia menggunakan nama samaran Hafidz.

Hafidz adalah salah seorang sahabat saya. Kami berteman semasa saya masih bekerja sebagai jurnalis yang ditugaskan ke Maluku, untuk meliput kerusuhan terakhir dan proses rekonsiliasi. Saya berada di sana selama dua tahun, dari tahun 2004 hingga 2006.

Keakraban membuat kami tak sungkan berbagi data. Dan, penembakan aparat di Pulau Seram pada tanggal 16 Mei 2005 itu, adalah salah satu informasi yang pernah diberikannya. Dia sudah sangat berjasa –setidak-tidaknya bagi saya dan beberapa kawan jurnalis lainnya. Karena informasi darinyalah, kami dapat mengakses kejadian itu hingga dapat diketahui rakyat Indonesia, dan tentu saja menghindarkan kami dari ‘kena-damprat’ pimpinan redaksi jika mengalami ‘kecolongan’.

Pertemanan saya dengan dia berawal pada suatu sore bulan Januari 2005. Kami bertemu di Alladin, sebuah warung internet langganan saya di wilayah Waihaong, kota Ambon. Saya baru saja akan mengirimkan naskah berita ke redaksi di Jakarta, ketika dia menghampiri saya dan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.

Operator warnet itu yang pertama kali membuka ruang perkenalan saya dan jurnalis lain, dengan sosok Hafidz. Kedatangannya ke warnet Aladin untuk membuka jaringan, karena dia tahu bahwa warnet tersebut dijadikan pusat pengiriman berita oleh sejumlah koresponden media nasional. Saat itu Hafidz dengan mimik sungkan mengaku kepada kami, “Saya wartawan dari media online Lugas, ditugaskan ke Ambon untuk meliput.”

Percakapan kami akhirnya mengalir begitu saja: tentang situasi terakhir Ambon, tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapai dalam peliputan, dan tentang betapa mahalnya harga barang kebutuhan pokok di wilayah itu.

Hari itu pun menjadi awal untuk beberapa bulan berikutnya, dimana kami membicarakan ratusan lagi topik menarik lain dengan Hafidz. Namun meski berkarakter ramah, tak mudah bagi kami menerima begitu saja kehadiran Hafidz. Bukan saja karena dia terlalu ‘cerewet’ menanyakan informasi detail sejumlah peristiwa teror bom yang sudah membuat kami frustasi. Akan tetapi kacaunya eskalasi politik yang dialami daerah itu, menyebabkan kami wajib waspada kepada siapa pun orang yang baru dikenal.

Sikap awas ini boleh saja kami alamatkan kepada Hafidz. Pasalnya, setelah mengecek di internet, kami tak menemukan media online seperti yang dia sebutkan di awal perkenalan. Dalam waktu-waktu berikutnya, kami tetap mengiranya seorang jurnalis meski dia jarang turun ke lapangan melakukan ‘peliputan’. Hafidz hanya menemui saya beserta kawan-kawan jurnalis lainnya usai magrib, untuk menanyakan peristiwa-peristiwa yang terjadi hari itu. Terlebih dia memiliki satu kebiasaan yang membuat kami merinding: semua orang yang berkenalan dengan dia pasti dipotret.

“Ose biking apa par ambil poto? Memangnya ana selebritis ka? (Kenapa kamu mengambil foto. Memangnya saya selebritis?), protes Husain Tuharea, saat koresponden Transtv itu berkenalan dengan Hafidz.

Karena perilaku uniknya itu, kami akhirnya malas untuk meladeni pertanyaan-pertanyaannya. Bahkan lebih sering lagi, kami sengaja memberinya informasi secara parsial. Misalnya, 21 Maret 2005 , sebuah bom rakitan meledak di wilayah Batu Merah. Hafidz sangat marah kepada saya, “Bagaimana sih Mas Akbar ini. Kok datanya beda dengan koran Suara Maluku?”

“Terserah situ mau percaya siapa. Salah sendiri nggak pernah turun ke lapangan,” jawab saya sekenanya.

Tapi seiring berjalannya waktu, kami mulai terbiasa dengan Hafidz dan tak peduli lagi dengan status pekerjaannya. Kami pun akrab dengan ‘pola aneh peliputan’nya. Mungkin karena sudah merasa dekat, dia mulai sedikit terbuka.

Saya ingat, suatu malam di bulan September 2005, Hafidz mendatangi kos-kosan saya. Mulanya dia mengajak saya mencari makan. Namun segera diurungkannya, setelah saya menolak ajakannya. Dia lalu berinisiatif pergi membeli segelas kopi dan dua bungkus rokok putih. Sebungkus untuk untuk saya, sebungkus lagi untuk dia. Meski saya tahu dia tidak merokok, namun ternyata perlu beberapa kali hisapan tembakau untuk mengungkapkan suatu hal kepada saya: “Bar, maaf selama ini sudah menutupi. Kita ini sudah sahabat. Saya memang seorang agen….”

***

Lima bulan menjelang kepindahan tugas saya ke Makassar, kami betul-betul akrab. Jika malam ini dia menghabiskan waktu menonton televisi di kos-kosan saya, besok malam gantian saya yang menyambangi kontrakannya. Dia bahkan tidak perlu lagi grogi berada di tengah-tengah massa yang berdemo, disebabkan beberapa jurnalis sering memperhatikannya.

Kami sering bertukar data mengenai suatu peristiwa yang terjadi. Dia jugalah yang memberitahukan kami soal penyerangan pos jaga Brimob di pulau Seram itu. Sebagai kompensasi, naskah-naskah berita yang kami buat untuk redaksi, diteruskan juga ke email miliknya. Katanya untuk bahan tambahan laporan ke atasannya di Jakarta.

Dari keakraban itu, saya lalu mengetahui bagaimana payahnya kinerja spionase Indonesia. Dia mengakui, minimnya anggaran operasi membuatnya seringkali kalang kabut di medan juang. Saya juga akhirnya tahu, kenapa sahabat saya itu jarang turun ke lapangan, dan hanya menunggui kami di warnet saat akan mengirimkan naskah berita.

Ini memang ironi bagi dunia intelijen kita. Terlebih untuk daerah bekas konflik seperti di Maluku. Wilayah yang berpulau-pulau dan mahalnya biaya sarana transportasi, jelas memberi kesulitan tersendiri bagi para intelijen untuk melakukan penetrasi total. Akibatnya sangat fatal, daya jangkau pemantauan mereka makin sempit yang berarti memengaruhi analisis situasi yang terjadi.

Transportasi memang satu soal, di antara banyak masalah pelik lain, semisal biaya hidup yang demikian tinggi. Sebagai gambaran, dalam sehari saya rata-rata menghabiskan 70 ribu rupiah, hanya untuk biaya transportasi peliputan di dalam kota Ambon. Belum lagi, jika melakukan peliputan ke pulau-pulau. Saya pun maklum, jika intelijen akhirnya berfikir seribu kali memantau semua peristiwa yang terjadi hari itu.

“Gimana Bar, kalau saya bawa motor dari Jakarta saja,” tanya Hafidz saat kami pulang berjalan kaki, usai meliput demonstrasi di kantor gubernur Maluku, bulan Juni 2005.

Padahal, dalam pola pertahanan dan keamanan negara, posisi intelijen berada pada garis paling depan dan memegang peran penting dalam penentuan keberhasilan strategi suatu operasi. Di antara semua bagian, mereka adalah pihak yang paling riskan terkena resiko tugas. “Jika tak berhati-hati, pihak yang diintai bisa saja mengenali mereka dan kemudian melakukan hal-hal yang membahayakan posisi aparat,” katanya suatu saat, ketika saya menananyakan kenapa telepon genggam miliknya selalu di silent-statuskan.

***

Selain Hafidz, saya juga bersahabat dengan seorang intel lainnya dari sebuah kesatuan elit yang di tugaskan di Ambon. Nama samaran yang diperkenalkannya kepada saya adalah Andi. Namun dia sempat melakukan kecerobohan, dengan menggunakan nama lain, ketika berkenalan dengan seorang salah seorang jurnalis televisi kawan saya.

Andi juga mengakui hal yang sama. Dia mengatakan selalu menemui kesulitan untuk total melakukan tugas-tugasnya, karena biaya operasi yang tak kunjung mencukupi. Bahkan biaya untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan dan transportasi, terkadang jumlahnya lebih besar dibandingkan alokasi biaya untuk operasi di lapangan. “Kalau tak bisa hemat, bisa-bisa kita yang nombok,” katanya dengan nada masygul.

Untuk menekan biaya operasi itu, dia melakukan berbagi cara lain. Di antaranya, menjalin hubungan dengan pemilik akses-akses informasi seperti wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Mengkliping berita koran, meng-update data dari berbagai sumber serta mengoptimalkan penggunaan sumber-daya yang tersedia. Tentu saja, sembari tetap menerapkan pola-pola spionase normatif lainnya, seperti mengkamuflase identitas diri dan melakukan penyamaran fisik.

Namun Andi sedikit lebih beruntung. Institusinya melengkapi dia dengan sebuah sepeda motor. Dibanding Hafidz, mobilitas Andi relatif lebih cepat dalam mengakses suatu tempat kejadian perkara (TKP). Meskipun keberadaan motor merek Yamaha RX KING yang digunakannya itu statusnya ‘senin-kamis’. Karena motor dinas itu digunakan secara bergantian oleh anggota intelijen lainnya.

“Beta seng perna lia ale pake motor hari-hari. Sakarang ada, besok seng lai. Ose pung motor saparti hantu mo (Saya tidak pernah melihat kamu pakai motor setiap hari. Sekarang ada, besok sudah tidak ada lagi. Motor kamu seperti hantu saja),” kelakar Jossie, koresponden RCTI Ambon, saat kami mendapati Andi berkeringat karena berjalan kaki.

Pertemanan kami memang sangat akrab. Di wilayah konflik, kami beserta sahabat-sahabat intelijen itu biasa melakukan manuver untuk saling melindungi. Memang, kami selalu menghadapi situasi dimana mengalami kesulitan membaca keadaan yang bisa membahayakan jiwa.

Para jurnalis, khususnya perempuan, sering memberi masukan kepada para intel itu agar merubah penampilannya untuk mengurangi kecurigaan pihak-pihak yang tidak menginginkan kehadirannya.
Bukan apa-apa, selain wajah mereka yang khas Sunda dan Jawa, perawakan tubuh mereka rata-rata tinggi besar dan berkulit putih. Sangat kontras dengan potongan sebagian orang Maluku, yang berkulit hitam manis. Karena itu, saya tak pernah lupa sebuah insiden yang terjadi di Rumah Sakit Bayangkara Ambon. Ketika penampilan yang menyolok menjadi pemicu bentrok kesatuan Brimob dan Kopassus, dua jam setelah granat meledak di wilayah Batu Merah.(p!)

Advertisements

~ by thalibanspirit on 05/15/2007.

4 Responses to “Sahabat Pengintai di Tanah Maluku”

  1. Saya senang baca tulisan ini. secara keseluruhan mampu membawa diri saya ke dalam cerita tersebut. tapi kok endingnya kurang nonjok?? malah terkesan sengaja digantung.
    Kalo bersedia, terusin dong ceritanya. saya paling gemes baca tulisan yang endingnya nggantung kayak gini,hehehe

  2. terima kasih Mas Tedy. saya sebenarnya mengalami kebingungan menuntaskan cerita ini. soalnya di Ambon, terlalu banyak hal menarik soal intelijen yang saya saksikan atau alami.

  3. awalnya mamie kira novel, ternyata kisah nyata yah?
    tapi ceritanya serem-serem..
    ngeri… :-S

  4. mbak mamie… tidak sreemmji. lucu malah 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: