Setyo Cahyono, Dari Loper ke Juragan Sekolah Komputer


 setyo-komputer1.jpg

Situasi sulit adalah pelecut semangat dan kreativitas. Itulah prinsip hidup Setyo Cahyono. Seorang anak muda berusia 25 tahun dari kota Pasuruan, Jawa Timur. Tekanan ekonomi dan sukarnya mencari pekerjaan tidak membuatnya putus asa. Sebaliknya, ia justru berpikir untuk membuka lapangan kerja sendiri dan juga menyiapkan peluang kerja bagi orang-orang di sekitarnya.

Berkat keuletan dan kesabaran, Setyo sukses mendirikan sebuah lembaga pendidikan komputer. Sekaligus, sebuah warung internet serta toko suku cadang komputer. Tempo membesarkannya pun singkat saja: 5 tahun.

Setyo memberi nama ‘Primacom’ pada lembaga pendidikannya. Sementara warnet dan toko suku cadang komputer diberi nama Primanet. Ia menjalankan ketiga usaha itu bersama orangtua dan seorang adik laki-lakinya.

Sejak awal kali merintis usaha hingga sekarang, Setyo memanfaatkan beberapa ruangan tak terpakai di rumahnya, di Jalan Raden Patah Gang Pramuka Nomor 22, Pasuruan. Ia tidak menyewa tempat usaha –misalnya sebuah rumah toko (ruko)– seperti pelaku usaha lain lakukan. Namun dibalik tempat yang sederhana itu, ratusan orang telah berhasil ia didik ilmu komputer.

Tak seorang pun kerabatnya yang menyangka situasi anak muda itu bakal berubah. Karena beberapa tahun lalu, ia hanyalah seorang loper koran dan tukang parkir. Dua pekerjaan yang pernah dilakoni sambil bersekolah. Demi satu cita-cita mulia: membantu orang tua.

***

Setyo remaja adalah sosok bersahaja. Waktunya habis dalam dera kemiskinan keluarga. Ia tak banyak menuntut. Karena mengerti, penghasilan kedua orang tuanya sebagai penjual kue sangat tidak mencukupi. Dalam sehari keuntungan menjual kue itu hanya Rp15.000.

Namun Setyo masih bersyukur. Kedua orang tuanya berkeinginan kuat dapat terus menyekolahkannya. Begitu pun dua adiknya, Dian Effendi dan Alvinda Anistriani. Kendati berada di tengah situasi pas-pasan, orang tua Setyo paham betul betapa pendidikan itu sangat perlu.

Setyo bersama kedua adiknya pun tahu bagaimana berterima kasih kepada orang tuanya. Ketiganya tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Prestasi belajar mereka tak pernah anjlok, walau selalu berhadapan dengan berbagai keterbatasan.

Tapi tidak hanya sampai di situ. Setyo punya keinginan lain. Keinginan yang menurutnya sangat tidak muluk. Yaitu membantu keluarga sehingga terbebas dari jeratan hambatan finansial. Pemikiran itu mulai timbul sejak ia masuk SMP, tahun 1996.

Menurut Cahyo, saat itu ia iba melihat orang tuanya yang tak kenal waktu membanting tulang. Keduanya selalu terlihat kelelahan setelah sepanjang hari berjualan kue. Sejak itu Setyo memutuskan untuk sekolah sambil bekerja.

Pekerjaan yang dipilihnya adalah loper koran. Bersama seorang kawan yang mengajaknya, ia mendatangi sebuah agen koran di Pasuruan. Maksud kedatangannya ternyata diterima baik oleh pemilik agen. Setyo menerima tawaran kerja mengantar koran pagi hari ke pelanggan sebelum ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia membantu pekerjaan kedua orang tuanya di rumah hingga petang. Pada saat libur sekolah Setyo lalu berjualan koran di jalan-jalan. Upah yang didapatkannya sebagai loper adalah Rp25 ribu per bulan. Sementara dengan berjulan koran, Setyo mampu mendapat keuntungan Rp5 ribu hingga 9 ribu. “Saya sama sekali tidak malu melakukan itu, biarpun selalu bertemu kawan-kawan sekolah di jalan saat berjualan. Saya harus membantu orang tua,” katanya.

Hasil bekerja sebagai loper ternyata belum mencukupi. Harga kebutuhan pokok makin naik, dan kedua adiknya tetap harus bisa makan dan bersekolah. Setahun kemudian, saat duduk di bangku kelas 2 SMP, ia membebani dirinya satu pekerjaan lagi: tukang parkir. Pekerjaan ini dilakukannya pada malam hari, usai magrib hingga dini hari. Lahan parkir Setyo berada di dekat Pasar Poncol Pasuruan. Dalam semalam ia mampu mendapat Rp7.000. Setelah melakoni dua pekerjaan itu sekaligus, barulah Setyo merasakan sedikit ada perubahan pendapatan.

Sifat kedua orangtuanya ternyata menurun. Setyo menjadi sosok yang pantang menyerah. Dari pagi hingga malam hari, ia sepenuhnya berada di luar rumah: bersekolah, bekerja dan bekerja. Meski sebagian besar waktunya habis untuk bekerja, Setyo tak pernah lupa untuk terus belajar dan berprestasi di sekolah. Ketika menjual koran atau di tempat parkir, ia selalu menyempatkan diri membaca buku-buku pelajaran. “Sekolah nomor satu. Pekerjaan ini menunjang sekolah saya,” ujarnya.

Setyo tak pernah merasa lelah. Semua dijalaninya dengan baik selama enam tahun. Dari kelas 1 SMP hingga ia duduk di kelas 3 SMK PGRI 1 Pasuruan, jurusan Akuntansi. Selama kurun waktu itu, hasil pekerjaannya betul-betul bisa membantu keluarga dan prestasi akademiknya tidak pernah turun.

Setamat sekolah kejuruan, Setyo memutuskan tidak kuliah. Karena saat itu, tabungan yang dimilikinya masih belum cukup untuk melanjutkan pendidikan. Dan prinsipnya, bangku kuliah bukan satu-satunya cara untuk dapat terus belajar. Ia lalu mendaftarkan diri di sebuah tempat kursus komputer yang relatif murah. Sembari terus bekerja, Setyo memperdalam ilmu komputer.

Tahun 2002, terbesit keinginannya untuk memiliki sebuah komputer. Hal itu muncul ketika ia mengantar koran ke salah seorang pelanggannya. Di rumah itu, mata Setyo tertumbuk pada sebuah komputer milik pelanggan koran itu.Ia yakin akan dapat melakukan banyak hal dengan benda yang rata-rata telah dimiliki kawan-kawan sekolahnya dulu. “Kebetulan, seorang pengajar saya di tempat kursus menawarkan komputernya seharga 750 ribu rupiah,” katanya.

Keinginan boleh mencuat, tapi apa daya tabungan Setyo hanya Rp250 ribu. Meski begitu, ia tetap saja nekat membelinya. Tabungan itu diserahkan sebagai uang muka. Ia lalu memberitahukan orang tuanya perihal pembelian komputer itu. Ayah Setyo cukup lama berpikir. Ibunya bahkan lebih berat lagi. Situasi keuangan masih tidak memungkinkan. Namun, mengingat Setyo tak pernah mengecewakan keduanya, keinginan Setyo pun dipenuhi. Sisa pembayaran itu dicicil.

Setyo semakin intens belajar komputer. Ilmu yang didapatkannya di tempat kursus, ia bagi kepada adiknya, Dian Effendi. Untuk mempermudah pembelajaran, keduanya rajin menyambangi pedagang buku loakan dan membeli buku-buku bekas mengenai komputer.

***

Setyo tak akan penah lupa satu peristiwa. Tiga bulan setelah pembelian komputer, ia didatangi oleh salah seorang kawannya semasa SMK dulu. Kawan itu ternyata meminta Setyo untuk mengajarkan komputer kepadanya. Setyo tentu merasa senang, ilmu yang sudah didapatkannya, kini bisa ia aplikasikan ke orang lain. “Saya kasih gratis. Eh, dia malah ngotot untuk membayar jasa saya. Ya sudah, kami akhirnya sepakat 15 ribu per bulan,” ujar Setyo sambil tersenyum.

Tiga bulan kemudian Setyo didatangi tujuh orang kawan lainnya, juga ingin diajari komputer. Setyo dengan sedikit ragu menyanggupi keinginan mereka. Ia merasa bingung, karena tiba-tiba saja banyak kawan yang datang dengan permintaan sama.

Belakangan barulah Setyo tahu, ternyata kawan yang pertama kali dia ajar, menyebarkan informasi bahwa Setyo membuka kursus komputer murah. Tentu saja disertai keterangan tambahan: metode mengajarnya bagus. Untuk ketujuh kawan itu, Setyo juga menetapkan tarif Rp15 ribu per bulan hingga mahir.

Informasi masih beredar dari mulut ke mulut. Namun tak butuh waktu berapa lama, beberapa orang datang mendaftar. Setyo kelabakan. Pasalnya, saat itu komputer miliknya hanya satu unit. Terlebih ruangan yang digunakan adalah ruang tamu yang berukuran sempit. “Tapi Tuhan selalu membantu hambanya. Saya segera membeli satu komputer lagi dari uang pendaftaran siswa saya itu. Ayah juga bantu saya dengan tabungannya,” ujarnya.

Setyo pun memulai kesibukan barunya. Ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai loper koran dan tukang parkir. Pasalnya jumlah peserta kursus semakin banyak. Bahkan setahun sejak itu, pada tahun 2003, peserta kursus sudah mencapai puluhan orang. Rata-rata anak sekolah. Mereka kursus model lesehan; duduk di lantai beralas tikar.

Awal tahun 2003, Setyo mendaftarkan izin tempat kursusnya ke Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja kota Pasuruan. Tanggal 5 Februari, Surat Keputusan [SK] izin pendirian Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kerja akhirnya keluar. Ia menggunakan nama Primacom dan pada saat yang sama sertifikat usaha juga diterbitkan. “Saya bersyukur surat izin bisa keluar, karena saat itu komputer yang saya miliki cuma dua unit,” ujarnya.

Melihat usahanya berkembang, ayah Setyo berbangga hati. Ruangan kursus kemudian dipeluas. Ruang tamu itu sudah tidak cukup untuk menampung para siswa. Sedikit-demi sedikit, Setyo menguras tabungannya untuk melengkapi peralatan kursus, seperti meja dan kursi. Ia juga menambah dua komputer lagi, hingga semuanya berjumlah empat unit.

Dalam proses selanjutnya, Setyo melakukan promosi usaha melalui brosur. Upayanya berhasil, karena saat ini sebanyak 350 peserta kursus dibina oleh Setyo. Termasuk putra dan putri wakil walikota Pasuruan.

Sejalan dengan perkembangan usaha itu, adik Cahyo, Dian Efendi, ingin belajar lebih dalam tentang komputer. Usianya sebaya dengan anak SMP lain. Cahyo beserta ayahnya sangat mendukung keinginan Dian itu. Atas usaha ayahnya pun, Dian akhirnya belajar pada seorang kawan ayahnya yang sudah lama bekerja sebagai tukang reparasi komputer. Selama lima bulan ia ditempa dan dididik cara memperbaiki komputer rusak.

Ilmunya ternyata bermanfaat. Cahyo pada akhirnya tidak lagi menggunakan jasa perbaikan dari orang lain. Cukup Dian saja yang menangani jika terjadi kerusakan. “Waktu itu, saya sering dibodohi tukang servis. Alat yang masih bisa dipakai, katanya sudah harus diganti. Akhirnya saya mengeluarkan cukup banyak biaya,” keluh Cahyo.

Minat Dian pada komputer juga tidak setengah-setengah. Setamat SMP, Dian mendaftar ke SMK Negeri Purwosari, jurusan Teknik Informatika. Ilmu komputernya makin hebat. Selain merakit komputer, Dian juga meningkatkan keahlian meng-instal program dan membuat situs web.

Ia memang cerdas di bidang itu. Tak tanggung-tanggung, Dian mewakili sekolahnya mengikuti lomba komputer di Semarang. Hasilnya, Dian meraih juara 2 tingkat nasional antar sekolah kejuruan. “Malah saat itu sempat tersiar kabar, kalau adik Dian akan diberi beasiswa ke Singapura. tapi nggak tau kenapa sampai nggak jadi,” aku Setyo.

Setyo sangat bangga dengan prestasi adiknya. Tapi dia harus berkonsentrasi lebih dalam lagi ke usahanya. Sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan kerja, tentu harus memiliki kurikulum pengajaran. Setyo tak mati akal. Ia mengunjungi nyaris semua lembaga pendidikan sejenis di Pasuruan. Dari situ, ia kemudian menggabungkan beberapa silabus dan mencoba merumuskan kurikulumnya sendiri. Katanya, “Saya masih terus mengembangkannya sampai betul-betul matang.”

Karena alasan itu pulalah, sampai saat ini Setyo belum merekrut tenaga lain. Hanya Dian saja sekali-kali ia tugaskan untuk membantunya mengajar. Jika saatnya nanti kurikulum yang dibuatnya sudah selesai, barulah Setyo merekrut tim pengajar. Katanya, agar pengajar itu lebih cepat paham dengan model pengajaran yang diinginkan setyo.

***

Tahun 2006, Setyo dan Dian memiliki impian yang sama. Mereka ingin mendirikan sebuah warung internet. Tapi mengingat kondisi keuangan lembaga pendidikan belum cukup, keinginan itu akhirnya dimentahkan begitu saja. Biayanya cukup besar. Apalagi, jumlah komputer lembaga pendidikan hanya 10 unit. Padahal harus digunakan untuk mengajar 300 orang lebih siswa.

Tapi mimpi itu sepertinya akan terlaksana. Suatu waktu, saat Setyo pergi ke Surabaya, ia bertemu dengan seorang lelaki paruh baya di dalam bis. Keduanya akrab lalu menceritakan perihal diri masing-masing. Mendengar kisah Setyo, lelaki yang akrab dipanggil Pak Jo itu langsung menawarkan bantuan.

Setyo mulanya tak percaya. Tapi Begitulah kenyataannya. Pak Jo membantu Setyo dengan membelikannya komputer sebanyak 15 unit. Status bantuan itu pinjaman tanpa bunga. Jadwal pengembaliannya pun dilakukan sesuai kemampuan Setyo. Setyo sangat gembira dan mengucapkan terima kasih. Sepulang dari Surabaya, ia mengundang Pak Jo untuk melihat-lihat usahanya, sebelum memastikan untuk memberi bantuan. “Pak Jo sangat senang melihat anak muda yang mau bekerja keras. Itulah mengapa sampai dia menawarkan saya bantuan, meski belum melihat usaha apa yang sudah saya lakukan,” katanya.

Akhirnya berdirilah sebuah warnet seperti apa yang diimpikan Setyo dan Dian. Warnet itu begitu ramai pengunjungnya. Karena warnet Prima milik Setyo, adalah satu-satunya warnet yang menyediakan fasilitas online game. “Memang banyak warnet di pasuruan, tapi saya satu-satunya yang berinovasi membuka game centre,” ujarnya.

Namun kehadiran Pak Jo seperti malaikat. Muncul tiba-tiba. Menawarkan bantuan. Kemudian menghilang entah kemana, setelah semua utang usaha Setyo lunas. Setyo mengaku tak tahu kemana perginya Pak Jo. Namun ia percaya, inilah sebagian bentuk dari jawaban Tuhan atas doa-doanya dulu.

***

setyo-komputer.jpg 

Lima anggota keluarga rasanya cukup untuk diberdayakan. Keluarga Setyo akhirnya berbagi tugas. Setyo bertanggung jawab terhadap lembaga pendidikan. Dian Effendi, adik Setyo, menangani warnet dan perbaikan infrastruktur. Ayah menjadi kasir dan mengatur keuangan perusahaan. Sementara Ibu beserta seorang adik bungsu Setyo menyediakan konsumsi pelanggan warnet dan mengurus keperluan Setyo, Dian dan ayahnya.

Selain mengurus warnet, Setyo dan Dian juga sepakat membuka toko komputer. Itu dilakukannnya tidak lama setelah warnet berdiri. Meski tidak besar, toko itu kini memiliki pelanggan tetap.

Setyo bahagia melewati bagian-bagian dari masa kehidupannya. Ia bersyukur namun tetap memiliki keinginan lain. Keinginan itu adalah memberdayakan pemuda-pemuda Pasuruan yang belum bekerja maupun mantan tenaga kerja yang sudah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaannya. Cita-citanya, ingin merintis pusat pelatihan kerja.

Karena itu lembaga pendidikan komputer yang dimilikinya, ia gabungkan dengan lembaga pelatihan kerja. Setyo mengaku prihatin dengan tingginya tingkat pengangguran saat ini. Lembaga pelatihan kerja itu memberikan pelatihan-peletihan kerja skala kecil hingga menengah. Umumnya terkait produksi Usaha Kecil dan Menengah [UKM]. Seperti pembuatan keramik, kursi dan kerajinan lainnya.

Berbagai langkah pun dilakukannya. Ia sudah menghubungi Dinas Tenaga kerja dan Dinas Sosial Jawa Timur untuk meminta petunjuk. Pihak pemerintah ternyata sangat mengapresiasi upaya Setyo. Pemuda itu diundang untuk mengikuti seminar Diklat Ekspor Impor yang dilaksanakan tanggal 22-24 Mei 2007 lalu. “Saat ini keinginan saya adalah merekrut pengajar bahasa-bahasa asing untuk mengajar pemuda-pemuda Pasuruan. Kalau pemerintah daerah mau membantu saya, saya akan senang sekali dan serius mengerjakannya,” ujarnya.

Bukan itu saja, Setyo malah berniat mendatangi sejumlah kantor kedutaan besar di Jakarta. Katanya, dia mau membuka jaringan dengan pelaku usaha di luar negeri. Tapi diakhir percakapan kami, saya menyarankannya untuk terlebih dahulu memberdayakan jaringan internet yang sudah dimiliki. Saya menjelaskan begitu detail hingga ia akhirnya mengerti.

Setyo Cahyono adalah kawan saya. Kami belum lama berkenalan, sekitar tiga bulan. Namun dari cerita hidupnya, saya akhirnya tahu dunia tidak sesempit seperti apa yang dibayangkan beberapa orang-orang yang tenggelam dalam keputusasaan. Dan dengan santainya Setyo mengatakan kepada saya, “Tak ada upaya yang tak menuai hasil. Asal disertai doa dan kesungguhan.” Pernyataan yang klise itu, terdengar berbeda ketika diucapkan oleh seorang pemuda seperti Setyo. (panyingkul.com)

Advertisements

~ by thalibanspirit on 05/28/2007.

5 Responses to “Setyo Cahyono, Dari Loper ke Juragan Sekolah Komputer”

  1. hubungi kami untuk sebuah kerjasama

  2. Salam kenal buat Mas Cahyo. Saya salut dengan kisah perjalanan hidup Mas. Sebenarnya saya juga punya pemikiran seperti mas yaitu membuka tempat kursus komputer karena saya juga merupakan pengajar di Labkom Akuntansi Untan. Cuma utk saat sekarang mungkin hal itu belum bisa terwujud karena saya masih terbentur pada lokasi dan modal. Tapi semoga saja suatu saat keinginan saya tsb bisa terwujud.
    Mas,sekali2 main ke blog saya yach. Ditunggu lo Mas…

    • Mas Yudi, kalo mas Yudi bingung masalah tempat, mas Yudi bisa menjadikan rumah mas yudi sebagai tempat belajar mengajar Kursus Komputer, jangan cari lokasi di luar dulu mas, sebelum mas mencoba dan dan mencoba. Terima kash.

  3. Mas saya seorang guru komputer ingin sekali seperti Mas Setyo buka kursus komputer di perumahan saya daerah cilengsi, tapi dengan kondisi komputer saya cuma satu maka saya aga tertunda gimana menurut mas

    • Untuk mas Eko, mas bisa kok memberdayakan komputer satu itu mas, pokoknya mas jangan menyerah yah Insya Allah ada jalan mas kalo mas ada kemauan kok ! Tidak ada yang tidak mungkin kalo mas punya keyakinan untuk maju sampai pada akhirnya bisa mendirikan suatu Lembaga sendiri nantinya. Sabar yah mas !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: