Wanteks


Junaidi, Si Tukang Wanteks 

Suatu hari di tahun 2001. Matahari di langit Makassar yang bersinar terik tak menghalangi langkah Junaidi. Ia tetap menyusuri lorong-lorong di kawasan Bara-Barayya. Tangan kanannya menggenggam erat kait sebuah panci kecil yang terbuat dari aluminium. Panci itu berisi satu botol bekas kemasan air mineral yang diisi bahan pewarna dan kompor minyak.

Meski sudah siang, Junaidi belum menemui satu orang pun yang ingin menggunakan jasanya mewarnai pakaian mereka. Hari itu mungkin hari yang apes baginya. Seperti juga dua hari sebelumnya. Tapi, pria asal Madura itu tak ingin berputus asa dan terus berjalan.

Di tengah harapannya agar bisa mendapat pelanggan, tiba-tiba lima orang pemuda yang sedang nongkrong di salah satu pos ronda di Bara-Barayya mencegat. Mulanya ia merasa gembira karena mengira pemuda tersebut ingin mewarnai pakaiannya. Namun wajah Junaidi akhirnya kuyu sekaligus pucat. Bau minuman keras meruap dari mulut pemuda-pemuda itu,

“Mas, minta uangmu dulue!” Pinta kelima pemuda itu dengan memaksa.

“Saya tidak punya uang, Mas. Saya cuma punya rokok. Kalau mau, ambil saja,” kata Junaidi mencoba sedikit berbohong sambil mengambil tiga batang rokok di saku kemejanya.

“Kalau rokok, kita juga punya. Tapi itu sudah habis,” gertak salah seorang di antaranya sambil menunjuk gelas dan botol minuman keras di dalam pos ronda.

Junaidi diam tak berkutik. Baginya saat itu, melawan lima pemuda mabuk adalah perbuatan tolol. Pemuda itu kemudian menguras isi dompetnya. Uang keuntungan yang dikumpulnya pekan lalu, sebesar Rp100 ribu, amblas. Rokok pun juga disita. Perlengkapan kerjanya –- ember, bahan pewarna pakaian dan kompor minyak– juga diambil paksa. Bapak satu putri itu pasrah. Ia berjalan pulang sambil merenungi nasib.

***

Junaidi sudah bekerja sebagai tukang wanteks keliling di Makassar mulai tujuh tahun lalu, sejak tahun 2000. Tukang wanteks adalah sebutan bagi orang-orang yang bekerja dengan menyedikan jasa mewarnai pakaian. Entah dari mana penamaan tukang wanteks itu. Junaidi sendiri juga tak tahu. Namun kemungkinan besar menurutnya, berasal dari nama merek pewarna yang kini tak digunakan lagi.

Di beberapa daerah sebutan itu menjadi berbeda. Di Pulau Jawa misalnya, tukang wanteks disebut ‘winter’. Tukang wanteks atau winter ini, selain mewarnai pakaian yang luntur, juga melayani jasa penggantian warna baju. Tapi tentu saja, dari warna terang menjadi lebih gelap. Atau setidaknya menyamarkan warna pakaian yang sudah luntur.

Peristiwa pemalakan di Bara-Barayya yang pernah dialaminya pada tahun 2001 itu, sungguh memberi bekas. Ia tak akan pernah lupa dan akhirnya memutuskan memilih lokasi-lokasi yang aman untuk menawarkan jasanya. “Saya trauma, Mas. Uangnya sih nda masalah. Cuman peralatan itu, saya pinjam dari teman,” ujar pria berusia 31 tahun itu, dengan logat Madura yang tidak lagi terlalu kental.

Junaidi pun bercerita banyak soal suka-duka bekerja menjadi seorang tukang wanteks keliling. Dikisahkannya, karena peristiwa itu, ia makin bekerja keras untuk mengganti peralatan kawannya yang dirampas kawanan preman itu. Untunglah ia bisa mengganti peralatan kerja itu hanya dalam waktu 2 bulan.

Ia mengeluhkan sikap orang-orang terhadapnya. Kadangkala, Junaidi merasa dijahili dengan cara pembayaran jasanya ditawar hingga harga yang menurutnya tidak masuk akal. “Pernah sekali saya ditawar hingga tujuh ribu rupiah untuk satu celana. Padahal saya sudah menetapkan satu celana seharga dua puluh ribu. Mana cukup untuk kembali modal kalau ditawar seperti itu, Mas,” keluh suami dari Siti Muspiroh ini.

Salah satu hal yang menurutnya cukup menyedihkan, adalah ketika beberapa pelanggan membatalkan janji untuk mewarnai pakaiannya tanpa alasan jelas. Padahal ia sudah berjalan jauh menuju rumah pelanggan itu. Dan hal itu tidak hanya terjadi sekali dua kali.

Dalam menjajakan jasanya, Junaidi berjalan kaki. Inilah salah satu beban berat yang dipikulnya. Karena ia harus berjalan kaki bepuluh kilometer menyusuri jalan-jalan kota di bawah terik matahari. Junaidi tak pernah menggunakan sepeda. Menurutnya, selain khawatir dengan situasi lalu lintas, ia takut ‘dirampok’ lagi di tengah jalan. Seperti yang pernah dialaminya di Bara-Barayya.

Junaidi mengakui sangat resah dengan bisnis perdagangan pakaian bekas ‘Cap Karung’ (Cakar) di Makassar beberapa waktu lalu. Pasalnya, untuk beberapa tahun, pemasukannya menurun sejak bisnis pakaian bekas itu sedang berkembang. Saat itu, menurut Junaidi, orang-orang tak mau lagi mewarnai pakaiannya yang luntur. Mereka lebih memilih membeli pakaian di sentra-sentra penjualan cakar ketimbang memperbaiki warna pakaiannya. “Kadang dalam satu minggu tidak mendapat orderan sama sekali,” keluh pria yang sudah ditinggal mati ayahnya sejak usia 5 tahun ini.

Menurut Junaidi, jika hari sudah sangat siang dan belum mendapat orderan di tempat yang ia kunjungi, ia biasanya memilih duduk di pelataran masjid terdekat menunggu waktu sholat. Sekalian berfikir dalam menetapkan tujuan selanjutnya. Pengakuan itu boleh jadi benar, karena saya pernah mendapatinya beristrahat di halaman Mesjid Al Markaz Al Islami, sambil menghisap rokoknya. Meski namanya istirahat, wajahnya tetap tegang.

Tapi saat ini Junaidi boleh sedikit berlega hati karena pemerintah akhirnya menutup kran impor untuk jenis perdagangan niaga tersebut. Penghasilannya yang dulu hanya rata-rata Rp300.000 per bulan, perlahan berangsur membaik. Kini ia bisa menikmati penghasilan antara Rp500.00- Rp600.000 per bulan. Katanya, jumlah itu cukup untuk membiayai hidup istri dan ibunya, serta menyekolahkan seorang putrinya yang kini duduk di kelas 5 Madrasah Ibtidayyah di Madura. Dan tentu pula, termasuk biaya hidupnya sendiri selama merantau di Makassar.

Hanya satu hal yang belum mampu ia selesaikan meski sudah bertahun-tahun merantau ke Makassar. Hal itu juga terus membebani pikirannya, sekaligus ‘penyemangat’ ketika ia akan keluar rumah di pagi hari untuk memulai pekerjaannya. Yakni, dirinya masih terlilit hutang sebesar Rp5 juta. “Uang itu saya pinjam dari seorang tetangga di Pamekasan, ketika memutuskan merantau ke sini. Sebagian saya tinggalkan untuk bekal anak dan istri. Sisanya saya bawa ke Makassar” akunya.
***

Junaidi tak pernah berniat untuk beralih kerja. Alasannya, hanya keterampilan mewarnai pakaian itulah yang ia miliki. Apalagi ia tidak memiliki pendidikan yang cukup. Junaidi hanya menyelesikan sekolahnya hingga kelas dua SMA. Sebagai seorang warga asal Kabupaten Pamekasan, Madura, pekerjaan itulah yang menurutnya dikuasai oleh kebanyakan warga Pamekasan, selain menjadi ‘tukang gigi’. Profesi tukang gigi menyediakan jasa membuat gigi palsu dari bahan sintetis.

Ia tak memilih menjadi tukang gigi. Karena menurutnya, pekerjaan itu tak membuahkan hasil yang lebih baik dari tukang wanteks. Sehingga untuk menutupi kekurangan penghasilannya, ia juga menyediakan jasa ‘ukir piring’. Pekerja jenis ini terampil mengukir nama pemilik piring untuk menandai piring-piring miliknya. Tapi, hasilnya tak seberapa. Untuk selusin piring Junaidi biasanya dibayar berkisar Rp1.000-3.000. Menurutnya, pesanan ukir piring jarang didapatkannya di Makassar.

Ketika menawarkan jasa wanteks, Junaidi menetapkan harga yang variatif. Tergantung jenis pakaian dan tingkat kualitas bahan pewarnanya. Misalnya, mewarnai selembar celana dengan bahan pewarna kualitas nomor satu, ia mematok harga Rp20.000. Untuk kualitas nomor dua, Rp15.000. Sementara kualitas tiga, Rp10.000.

Demikian juga dengan kain baju. Untuk mewarnai selembar baju degan kualitas terbaik, ia mematok harga Rp15.000. Sementara kualitas terendah Rp5.000 per helai. Menurut Junaidi, dengan kualitas terbaik, warna pakaian akan bertahan selama setahun. Saya mengiyakan saja pengakuannya itu, meski saya pernah me-wanteks celana yang langsung memudar warnanya dalam sepekan.

Kebanyakan pelanggan Junaidi adalah mahasiswa yang kos-kosan di sekitar kampus-kampus yang ada di Makassar. Menurutnya, orderan mewarnai pakaian akan makin membludak pada saat tanggal baru. Karena saat itu, rata-rata mahasiswa langganannya menerima kiriman uang dari orang tuanya. Satu yang membahagiakan Junaidi, para mahasiswa itu tak pernah berhutang ketika ingin mewanteks pakaiannya.

Ketika saya menanyakan pesanan terbanyak yang pernah dikerjakannya, ia menceritakan sekali waktu di awal tahun, sempat mendapat order yang ‘melimpah ruah’. Hari itu ia langsung me-wanteks 15 helai pakaian, pesanan dari sebuah partai politik. Junaidi sangat bersyukur, biar pun sebelumnya ia dijanji untuk mewarnai pakaian sebanyak 50 helai dan telah membawa bahan pewarna yang cukup untuk jumlah itu. Namun di hari-hari biasa, sehari ia rata-rata mengerjakan dua helai pakaian. Kemeja atau pun celana.

Dalam menjalankan pekerjaanya, pria berkulit hitam itu selalu membawa beberapa peralatan pokok. Antara lain, satu panci kecil, sebuah kompor mini, dua batang kayu berukuran 30 sentimeter dan satu botol bekas kemasan air mineral yang berisi bahan pewarna. Untuk keperluan lain, misalnya sebuah ember besar dan air untuk membilas, disediakan oleh pemilik pakaian.

Panci kecil itu digunakannya untk memasak bahan pewarna yag sebelumnya sudah dicampurkan dua liter air. Setelah mendidih, celana atau baju yang akan diwanteks, kemudian dicelup-celupkan ke dalam bahan pewarna itu selama kurang lebih 10 menit. “Setelah itu dikeringkan lalu dibilas dua atau tiga kali celupan di air bersih,” jelas pria yang ibunya masih hidup dan bekerja sebagai buruh tembakau di Madura ini.

Menurut Junaidi, bahan pewarna yang digunakan diperolehnya dengan membeli di seorang agen di Surabaya. Sekali membeli, biasanya Junaidi menghabiskan uang sebesar Rp300.000 per 4 kilogram. Bahan sebanyak itu bisa ia gunakan hingga satu bulan. Biasanya, Junaidi memesan via telepon jika kehabisan bahan pewarna. Namun ia juga biasanya membawa sendiri, jika mudik ke Madura atau menitipkan ke salah seorang kawannya yang kebetulan ke Surabaya. “Lumayan untuk menghemat ongkos kirim,” katanya.

***

Junaidi menyebutkan salah satu tempat di Jalan Kakatua, sebagai pusat bermukimnya tukang wanteks Madura di Makassar. Ada tujuh orang nama kawan seprofesi sekaligus sekampung yang ia lafalkan. Namun Junaidi tidak memilih tinggal di tempat itu, karena merasa berutang budi dengan seorang kawan sekampung dari Pamekasan, bernama Suryadi.

Kawannya itu ia panggil dengan sebutan ‘Pak’. Pak Suryadi bekerja sebagai tukang gigi. Dialah yang pertama kali menawarkan pekerjaan me-wanteks kepada Junaidi. Dia pulalah yang menjemput Junaidi di Pelabuhan Soekarno-Hatta, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Makassar tujuh tahun lalu. Mereka berdua mengontrak sebuah kamar di bilangan Jalan Mappaoddang, Lorong 3. Sebulan, kamar berdinding tripleks itu disewa Rp60.000.

Kini, dalam sehari Junaidi hanya membekali dirinya dengan uang sebesar Rp10 ribu. Uang itu digunakan untuk sewa dua kali naik pete-pete pulang-pergi plus membeli makan siang. Ia tak mau lagi membawa uang banyak. Tragedi di Bar-Barayya masih selalu menghantuinya.

Keuntungan harian yang diperolehnya langsung disimpan di celengan begitu tiba di kontrakan. Setiap bulan uang itu disimpan di rekening sebuah bank lalu dikirimkan ke anak-istri dan ibunya di Pulau Madura. Tentu saja setelah dikurangi dengan jumlah kebutuhan hidupnya di Makassar.

Tapi akhir-akhir ini, Junaidi tak lagi mengirim uang perbulan. Pikirnya, lebih baik uang hasil kerja tersebut dikumpul dan diendapkan 3-5 bulan di bank. Ia takut uang tersebut langsung habis jika langsung dikirim. Pengakuan Junaidi, istrinya, Siti Muspiroh, juga sepakat dengan keputusan itu. “Soal makan mereka di sana gampang, Mas. Selama masih bisa menanam ubi dan jagung, mereka bakal tidak kelaparan. Hitung-hitung bisa nabung untuk bayar hutang di tetangga.” Ujar Junaidi. (p!)

Advertisements

~ by thalibanspirit on 09/06/2007.

4 Responses to “Wanteks”

  1. tolong donk diajarkan gimna cara mewantek pakaian yg tepat dan benar
    serta bahannya alatnya apa saja,apakah pewarnanya standar dijual orang dipasar pasar sekian terimakasih

  2. Dimana ya jasa wantex gini di Makassar, ada yg punya info?

  3. Tolong infonya, dimana tempat ataw atau alamat lengkap wantex di makassar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: