Makassar Rindang, Daeng Liming Senang


Lugu 

“Kalau perlu, semua pinggir jalan di Makassar dibikin taman saja…”

Kalimat itu spontan terlontar dari mulut Daeng Liming, ketika kami berbincang di penghujung Agustus. Ia percaya pernyataannya itu dapat diwujudkan. Ia pun sangat yakin, jika seluruh bahu jalan di kota Makassar dibuat menjadi taman, maka kota itu akan menjadi kota paling asri dan indah di seluruh dunia.

Hanya saja, Daeng Liming ternyata tidak membayangkan berapa besar biaya untuk menjadikan Makassar sebagai kota taman. Laki-laki ini tak paham berbagai macam model kalkulasi anggaran pembangunan. Ia juga sama sekali tak mengerti masalah kebijakan tata ruang kota. Itu terlalu rumit baginya. Yang ia tahu, menanam dan memelihara pohon adalah perbuatan baik. Dan menurutnya, satu-satunya keindahan kota berasal dari banyaknya pepohonan. Bukan bentangan jalan lebar, atau hutan beton yang berlomba mencakar langit.

Sudah sembilan tahun Daeng Liming menjadi penjaga bibit tanaman hias kota. Tanaman itu adalah titipan pemerintah kota Makassar. Tumbuhan itu jelas tidak untuk diperdagangkan. Tetapi untuk ditanam di taman-taman kota yang ada di Makassar. Sebagian diperuntukkan bagi lahan khusus taman kota, sebagiannya lagi di sejumlah ruas jalan protokol. Di badan jalan besar seperti jalan Urip Sumohardjo dan Gunung Bawakaraeng, tanaman itu mudah kita temui. Karena difungsikan sebagai pembatas jalan.

Sembilan tahun yang lalu, pemerintah meminta kesediannya untuk menjaga bibit-bibit tersebut. Karena lahan penangkaran bibit tanaman Pemkot Makassar kebetulan berlokasi di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Tetapi tidak menjadi soal di mana penetapan lokasi penangkaran. Yang jadi masalah –dan membuat sebagian besar orang tidak berminat melakukan pekerjaan itu— adalah sifatnya yang sukarela. Penjaga bibit tanaman Pemkot Makassar tidak mendapat kompensasi apa pun. Hanya karena benar-benar cinta pada lingkungan, Daeng Liming langsung menerima tawaran itu.
Dan sebagai bentuk kecintaanya, ribuan pucuk bibit tanaman, seperti Mahoni, Palm dan Angsana itu, ia susun rapi di sekitar rumahnya. Saban pagi ia menyiram tanaman tersebut. Kadang ia juga merapikan wadah kantung plastik tanaman jika ada yang sobek. Rasanya Daeng Liming mengaku sudah sangat berbahagia, jika melihat tanaman itu tumbuh segar dan siap didistribusikan ke berbagai sudut kota.

Namun cinta itu bukannya tanpa duka. Daeng Liming akan marah, jika ia mendapati beberapa pengguna jalan yang kebetulan lewat, mencuri atau merusak tanaman-tanaman itu. Ia juga mengaku merasa serba salah untuk menegur warga sekitar, yang juga sering mengambil tanaman-tanaman itu tanpa permisi.
***
Laki-laki itu bernama Alimin. Namun warga di lingkungan tempat tinggalnya di Jalan Racing Centre, memanggilnya Daeng Liming. Sebutang “daeng” di depan namanya, bukan karena ia dituakan di wilayah itu. Usianya masih 35 tahun. Embel-embel “daeng” dilekatkan kepada pria itu, karena ia berprofesi sebagai tukang becak di malam hari. Siang hari, Daeng liming bekerja sebagai juru kunci gedung perkuliahan di Stikom Fajar.

Kehidupan ekonomi Daeng Liming terbilang sangat bersahaja. Sang istri, Aminah, membantunya mencari penghasilan tambahan dengan mengumpulkan barang-barang bekas.

Sudah sebelas tahun Daeng Liming meninggalkan kampung halamannya di kabupaten Jeneponto. Dan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Makassar, ia langsung berdomisili di Jalan Racing Centre.

Tak ada alasan istimewa apa pun ia memilih lokasi itu. Namun yang jelas, ketika pertama kali melewati jalan itu, matanya langsung tertumbuk pada sebuah gubuk yang berdiri di samping Gedung Harian Fajar. Tepat di samping saluran pembuangan air Antang-Jalan Daeng Sirua. Ketika menanyakannya ke beberapa warga sekitar, Daeng Liming mendapatkan keterangan kalau pemilik terdahulu –yang juga bekerja sebagai tukang becak– sudah setahun meninggalkannya.

Gubuk itu berdiri di atas lahan milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Makassar. Bukan milik pribadi. Maka tak heran, selama sebelas tahun menempatinya, Daeng Liming sudah tiga kali ‘menggeser-geser’ gubuknya. Pertama kali saat pemerintah kota menetapkan lokasi itu sebagai pusat penangkaran bibit. Kedua, saat proyek perbaikan drainase. Yang ketiga, saat pengerjaan proyek pembuatan jalan alternatif beraspal jalan Abdullah Daeng Sirua.

Daeng Liming tak pernah mau memusingkan status lahan tinggalnya. Ia mengatakan, jika memang dirinya harus pindah, ia siap melakukannya setiap saat. Tapi saat saya menanyakan nasib anak-istrinya jika berpindah-pindah, ia pun terdiam. Karena saat ini, anak sulung lelakinya sudah masuk sekolah dasar. Tentu sangat sulit mengurus pemindahan tempat pendidikan dengan dana yang sangat terbatas.

Ada satu hal yang membuat saya kagum. Meski didera kemiskinan, ia sama sekali tak pernah menuntut balasan atas jasanya menjaga dan memelihara tanaman hias tersebut. Hal itu dilakukannya, semata hanya karena kesukaannya pada lingkungan yang hijau. “Kurasa cukup ji gajiku dari jagai kampus. Apalagi tarik roda (becak -ed) ka juga,” katanya sambil tertawa.

***

 

Hari sabtu, tanggal 1 September lalu, saya membaca sebuah berita di sebuah harian lokal di Makassar. Judulnya: “Pencanangan Penanaman Sejuta Pohon di Sulsel.” Berita itu antara lain berisi tentang himbauan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, agar setiap warga menjaga pohon kota dan menanam minimal satu pohon di setiap rumah. Walikota berharap, pencanangan ini bisa mewujudkan program penghijauan kota Makassar.

Sebagai tahap pertama, sebanyak 4.150 bibit pohon telah dibagikan ke warga kota. Dan akan menyusul pembagian ribuan bibit pohon lain pada tahap berikutnya. Jenis bibit yang dibagikan adalah pohon Mahoni, Mangga, Nangka, Tanjung, Angsana, Eboni, Sawo, Tamarine (Asam Jawa), Kihujan dan lain-lain.

Siangnya, ketika saya memperlihatkan koran yang memberitakan hal itu ke Daeng Liming, ia terpaku saja membaca berita itu. Entah apa yang ada di dalam di pikirannya. Saya bisa memastikan, pikirannya tidak melayang ke soal wawasan lingkungan, isu pemanasan global akibat kondisi lingkungan yang kritis, atau maraknya gerakan back to nature di dunia internasional. Karena hanya satu komentar yang diucapkannya usai membaca berita itu, “Deh, jaina…” (Wah, banyaknya…-ed). (p!)

Advertisements

~ by thalibanspirit on 09/13/2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: