Ramallang, dari Penyapu Medali ke Penyapu Benteng


Be A Winner!

Memasuki pekan kedua Ramadan, keinginan saya untuk berjalan-jalan sembari menikmati senja kota Makassar begitu kuat. Saya pikir tak ada salahnya buka puasa di luar rumah sambil berakhir pekan. Tujuan pun saya tetapkan: Pantai Losari, tempat yang menyediakan beraneka jenis penganan buka puasa sekaligus pemandangan indah matahari sore.

Tapi di tengah perjalanan, saya tiba-tiba mengingat seorang kawan sekampus yang bertempat tinggal di kawasan Benteng Rotterdam, areal situs bersejarah yang terletak di ujung Jalan Penghibur. Dalam benak saya, berbuka puasa di benteng itu mungkin akan menjadi sebuah pengalaman yang menarik. Agenda ke Pantai Losari pun batal. Saya menuju Benteng Rotterdam.

Ramallang, kawan saya ini tinggal di bagian belakang benteng peninggalan Belanda tersebut. Sebuah dinding membatasinya dengan gedung kantor RRI.

Para mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin, sering berkumpul di tempat itu. Mereka menjadikannya sebagai tempat diskusi bersama para arkeolog.

Memasuki kawasan benteng, saya melewati jejeran taman asri dan indah, serta sejumlah bangunan tua yang terawat dengan baik. Rumput di taman itu tak ada yang tumbuh melebihi tinggi mata kaki orang dewasa. Sungguh terawat. Badan jalan dari paving block yang saya pijak pun, tampak sangat bersih. Tak ada sampah ataupun kotoran lain yang tersebar di kedua sisinya. Lokasi peninggalan bersejarah itu benar-benar sangat resik.

Tiba-tiba terlintas pertanyaan di kepala saya, siapakah yang melakukan semua ini? Jawabannya: Ramallang, kawan lama yang akan saya temui.

***

Ramallang adalah salah satu dari 32 orang petugas kebersihan dan perawatan Benteng Rotterdam. Bersama rekan-rekannya, ia menyapu halaman dan merapikan tanaman agar kawasan benteng tetap terlihat asri dan indah. Karena itulah pengunjung tak akan pernah menemukan pemandangan jorok dan tebaran sampah, di salah satu kawasan obyek wisata sejarah populer di Makassar.

Ke-32 orang petugas kebersihan itu terbagi dalam beberapa wilayah tugas. Dalam menjalankan pekerjaannya, seorang petugas tidak boleh membersihkan wilayah tugas orang lain. Masing-masing bertanggung jawab dengan wilayah kebersihannya sendiri. Ramallang misalnya, bertugas membersihkan sepotong area belakang benteng: sebuah taman yang luas dan beberapa petak badan jalan di dalamnya. Tidak jauh dari blok bekas bangunan penjara, tempat dimana Pangeran Diponegoro pernah ditahan penjajah Belanda.

Pria berusia 37 tahun ini telah bekerja sebagai petugas kebersihan Benteng Rotterdam sejak tahun 1999. Ramallang, begitu juga rekan seprofesinya, setiap hari bekerja mulai pukul enam hingga sembilan pagi. Agar tidak terlambat tiba di tempat kerja, Ramallang biasanya berangkat dari rumahnya di Jalan Tidung IX, Perumnas Tamalate, pada pukul 5 pagi, setelah ia usai menunaikan ibadah salat subuh.

Untuk jasanya itu ia mendapat imbalan Rp370.000 per bulan. Honor diberikan pihak Dinas Pariwisata Kota Makassar. Menurut Ramallang, sebagai pegawai honorer jumlah itu sudah sangat mencukupi. Terlebih jika dibandingkan dengan jam kerjanya yang terhitung singkat, hanya berkisar tiga jam per hari. “Tiga tahun pertama bekerja di benteng, saya malah cuma digaji seratus ribu rupiah per bulan. Tapi saya terima saja karena saya juga libur kalau hari Sabtu dan Minggu,” katanya.

Namun di saat-saat tertentu, semisal acara kunjungan pejabat pemerintahan ke Benteng Rotterdam, Ramallang biasanya baru bisa menyelesaikan pekerjaannya pada pukul 11 siang. Barulah jika pekerjaannya benar-benar tuntas, ia kemudian beralih profesi menjadi kuli bangunan. Di tahun-tahun terakhir, Ramallang juga memiliki keterampilan sebagai tukang batu. Ia mengerjakan sejumlah proyek renovasi atau pembangunan rumah milik orang lain, baik di dalam maupun di luar kawasan Perumnas Tamalate. Berbeda dengan menjadi tukang sapu, ia menetapkan pembayaran Rp40.000 per hari atas jasanya sebagai tukang batu.

Bercerita tentang suka duka dalam pekerjaannya, Ramallang mengakui ia sangat senang jika pekerjaannya cepat selesai. Karena dengan begitu, bisa segera mencari pekerjaan sampingan lainnya untuk menambah pendaptan keluarga. Ia juga merasa senang, karena selama delapan tahun mengabdi, tak pernah sekalipun mendapat teguran dari atasannya. Menurutnya, itu karena ia sangat disiplin dalam bekerja.
Sebaliknya, tak ada kisah duka baginya.

Ramallang tak mau berkeluh kesah soal pekerjaannya sekarang. Karena prinsipnya, “Kita harus bisa mencintai pekerjaan. Apapun itu. Karena kalau kita tidak mencintai pekerjaan, kita akan terlantar,” ujarnya sedikit berfilosofi.

Meskipun Ramallang hanya sempat mengecap pendidikan hingga kelas tiga di SLTP PGRI Tamalate, pandangannya itu bisa jadi menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Mungkin kedisiplinan dan prinsip hidupnya itulah yang menjadi berkah tersendiri bagi Ramallang. Karena akhir tahun ini, ia akan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Dinas Pariwisata kota Makassar. “Berkas saya sementara diproses. Mudah-mudahan lancar urusannya,” ungkapnya dengan mata yang berbinar.

***
Bagi pecinta olah raga, khususnya balap sepeda, mungkin tak asing dengan nama Ramallang. Sebagai mantan atlit balap sepeda yang pernah berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON), namanya cukup sering terdengar. Ia atlit balap sepeda berprestasi peringkat III di Sulawesi Selatan, setelah Oktavianus dan almarhum Haeruddin.

Ramallang, yang semasa masih aktif menjadi atlit sering dipanggil ‘Ronald’ oleh sesama pembalap sepeda, pernah membela Sulawesi Selatan di PON XIV Jakarta, pada tahun 1996. Ia mengikuti lomba nomor beregu bersama delapan atlit Sulsel lainnya. Namun sayang, Rumallang bersama timnya harus menerima kekecewan. Mereka dilibas atlit balap sepeda dari provinsi lain dan tidak dapat meraih gelar juara karena, “Kita kalah kualitas peralatan. Sepeda saya tidak memenuhi standar.”

Tapi terlepas dari itu, Ramallang tetaplah salah satu atlit andalan Sulsel. Tak terhitung berapa kejuaraan balap sepeda yang ia menangkan. Pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) IX, X dan XI, Rumallang berturut-turut menyabet gelar juara satu di kelas perorangan. Di Pra PON Semarang, ia mendapat juara III pereorangan. Sementara pada Pra PON Yogyakarta pada tahun 1995, Ramallang menggaet juara IV kelas beregu.

Untuk menjadi atlit juara, menurut pria yang belum dikaruniai anak ini, tidaklah mudah. Setiap hari harus mendisiplinkan diri dengan latihan keras. Dicontohkannya, ketika akan mengikuti PON XV Surabaya pada tahun 2000, dalam sehari ia menggenjot stamina dengan latihan mengayuh sepeda dengan jarak kurang lebih 350 kilometer. Rute latihan dimulai dari kota Makassar pada pukul 9 pagi, dan tiba di Palopo pada pukul 6 sore. Selain stamina yang dibutuhkan untuk rute panjang, ia juga melatih kecepatannya yang menjadi inti lomba jarak pendek.

Ia mengatakan, stamina atlit balap sepeda Sulsel tak kalah dengan pesaing dari provinsi lain, seperti DKI, Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta. “Kita disegani. Latihan ini sudah termasuk kategori seleksi. Jadi kita memang harus pecahkan rekor latihan. Lagian juga, kalau berhenti latihan dalam sehari, kita seperti mulai dari awal lagi,” jelas Rumallang.

Ramallang mengakui, hal yang sangat menyedihkan baginya adalah ketika tak mampu meraih juara, padahal telah melakukan latihan berbulan-bulan. Tapi hal itu diakuinya jarang terjadi pada dirinya. Biasanya, sebelum bertanding, Ramallang melakukan ‘ritual’ yang diyakininya benar-benar bisa membuatnya menjadi juara. Percaya atau tidak, ritualnya itu tak lain, “Berdiam diri sesaat sambil berniat mendaptkan gelar juara. Saya membaca niatnya ketika bangun dari tidur di hari pelaksanaan lomba.”
Tapi kejayaan Ramallang itu adalah masa lalu. Pada tahun 2000 lalu, dalam seleksi ke PON XV di Surabaya, dirinya dinyatakan tidak lulus. Ramallang mengaku sangat kecewa dengan hasil keputusan KONI Sulsel itu. Karena ia sudah memforsir kualitasnya dengan mengikuti TC ( training centre) selama 4 bulan. Padahal ia sudah berjanji untuk membayar kekalahannya pada PON yang lalu. Ia menuding, faktor kedekatan personal beberapa atlit lain dengan pelatih yang menyebabkan dirinya tersingkir.

Peristiwa itu membuat Ramallang frustasi berat. Semua foto-foto kebanggaannya ketika mengikuti kejuaraan, yang tertempel di dinding rumahnya dicabut dan dimusnahkan. Diputuskannya untuk gantung sepeda. Ia juga menyimpan semua medali dan piagam-piagam yang pernah diraihnya di dalam lemari yang tak terurus. Bahkan, ketika saya berkunjung ke rumah Rumallang, hanya ada 4 piala kecil yang ia pajang di ruang tamu. Salah satu piala membuat saya tersenyum, di situ tertera sebuah tulisan: ‘Juara I Lomba Sepeda Mini Se-Kecamatan Tamalate’.

***

Tim Balap Sepeda Sulsel 

Kecintaannya terhadap sepeda dimulai pada tahun 1987. Saat itu ia adalah remaja yang masih duduk di kelas 1 SLTP. Kebiasaannya menonton atlit balap sepeda yang sedang latihan di seputaran Benteng Rotterdam-Kantor Pos Besar Makassar, pelan-pelan menumbuhkan minatnya.

Ia pun selalu berkhayal, bisa menjadi atlit seperti itu dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Khayalan itu ia coba wujudkan, dimulai dengan mengikuti berbagai lomba balap sepeda tingkat kelurahan dan kecamatan pada usia remajanya. Sebagai bentuk keseriusannya, dengan uang sendiri, ia membeli sebuah sepeda mini yang waktu itu berharga Rp.30 ribu. Mengikuti lomba-lomba balap sepeda ‘ecek-ecek’ itu dilakoninya selama dua tahun.

Setamat SLTP, ia memilih pilihan kurang lazim: berhenti sekolah dan terjun ke dunia balap sepeda profesional. “Memang cita-cita saya dulu, kalau bukan jadi pelari, saya mau jadi atlit balap sepeda,” katanya.

Pilihan itu rasa-rasanya menjdi tepat, karena prestasinya cukup baik dalam bidang itu. Ini sejalan pula dengan prinsip hidupnya: melakukan sesuatu dengan totalitas. Prinsip itu pun diterapkannya dalam pekerjaannya sekarang sebagai tukang sapu di Benteng Rotterdam.

Ramallang sangat menyayangkan, pemerintah daerah tidak cukup memerhatikan nasib para atlit. Menurutnya, saat ini banyak atlit maupun mantan atlit yang menghadapi ketidakpastian masa depan. Ia menyontohkan, seorang seniornya di balapan sepeda yang bernama Habantu. Habantu pernah memegang rekor sprint kejuaraan balap sepeda se-Asia di Korea. Salah satu atlet andalan sulsel itu juga beberapa kali mengharumkan nama bangsa, dengan menggaet juara antar-bangsa. Namun saat ini, Habantu tidak lagi diperhatikan pemerintah. Untuk menghidupi diri dan keluarganya, Habantu terpaksa bekerja sebagai satpam di Wisma Lydiana, Jl. Pelita, Makassar. “Padahal dia pernah jadi pelatih pelatnas,” kata Ramellang.

Ramallang kini tidak lagi bertubuh atletis. Badannya sudah sedikit gemuk. Meski samar, jelas masih terlihat sisa keperkasaan masa lalu sebagai atlit balap sepeda Sulsel. Ia sangat menyarankan kepada para atlit muda saat ini, agar lebih menekuni pendidikan ketimbang memilih olahraga sebagai pilihan hidup.

Saya tidak tahu, apa itu bentuk kekecewaannya atau karena memang prihatin dengan masa depan atlit yang disia-siakan seperti dirinya. Tapi yang jelas ia tak lagi menginginkan dunia yang pernah menghantarkannya dalam masa keemasan itu. Karena setitik harapan menunggunya beberapa bulan ke depan: terangkat menjadi PNS. (p!)

Advertisements

~ by thalibanspirit on 10/04/2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: