Baygong


kodi.jpg 

Hujan baru saja usai membasahi kota Makassar. Sore itu, di beberapa petak pelataran parkir kampus Stikom Fajar, air masih menggenang. Melihat cuaca mulai sedikit cerah, Baygong segera beranjak menjauhi saya di kantin kampus dan mengambil selembar kain spanduk hitam. Kain itu diambilnya dari dalam sebuah dus bekas, yang tersimpan di ruang sekretariat kelompok mahasiswa pencinta alam.”
Baygong lalu menghampar kain di atas sebuah meja kayu yang terletak tak jauh dari ruang sekretariat. Satu per satu, ia mengelupaskan tempelan kertas huruf-huruf yang membentuk beberapa rangkaian kalimat di spanduk. Rupanya ia ingin membersihkan spanduk bekas itu agar bisa digunakan lagi.

Sebagai pejabat ketua kelompok pencinta alam di Stikom Fajar, ia memiliki tanggung jawab memelihara dan menjaga penggunaan alat organisasi yang dipimpinnya. Termasuk, penggunaan kain spanduk itu.

Kalimat di bagian atas spanduk pendek saja: Ekspedisi Gabungan Panjat Tebing Putri “Seriti”. Sementara di bagian tengah, tertulis beberapa nama perguruan tinggi di Makassar: Stikom Fajar, STIM Nitro dan STIK Tamalatea. Bagian bawah tertera nama tempat pelaksanaan ekspedisi itu: Gunung Bambapuang, Kabupaten Enrekang. Tak ada tanggal, nama bulan ataupun tahun pelaksanaan yang disebut di situ.

Baygong berdiri melakukan pekerjaannya. Ujung bawah celana jeans-nya digulung. Mungkin disengaja untuk menghindari percik genangan air. Karena hawa dingin sehabis hujan, ia pun membiarkan rambut panjangnya terurai hingga ke bahu. Ia lalu memanggil saya duduk di dekatnya. Bukan di sebuah kursi, tapi di atas sebuah pipa air bekas berdiameter 50 sentimeter. Sebelumnya, Baygong sudah mengelapnya dari sisa hujan. Pipa bekas itu memang kerap dimanfaatkan sebagaian mahasiswa di kampus itu sebagai tempat duduk.

“Saya ndak mau jadi nelayan seperti teman-temanku di Kodi, Kak.,”

Baygong mulai melanjutkan lagi percakapan kami. Rumah tempat tinggal Baygong terletak di pulau Kodingareng. Tetapi ia lebih sering meningkatnya dengan nama ‘Kodi’ saja. Jarak pulau itu sekitar 100 mil dari kota Makassar. Pulau itu memiliki luas …. kilometer persegi dan merupakan wilayah administrasi Kelurahan Kodingareng yang masuk dalam kecamatan ….

Pulau Kodingareng dapat dicapai dalam satu jam dengan menggunakan papalimbang atau sebuah perahu kayu mesin berkekuatan 2 PK. Papalimbang sebuah kosa kata Makassar, yang berarti ‘alat penyeberangan’.

Keluarga Baygong adalah keluarga nelayan. Ayah, paman, dan beberapa kerabat Baygong lainnya, seperti hampir semua penduduk pulau Kodingareng, bekerja sebagai penangkap ikan. Pulau Kodingareng dihuni kurang lebih 800 kepala keluarga.

Kebanyakan anak-anak dan remaja di pulau Kodingareng sudah “wajib” bekerja membantu orang tuanya sebagai nelayan sejak belia. Atau, setelah menamatkan sekolah dasar.

Tapi berbeda dengan yang lain, Baygong memilih pilihan yang tidak lazim.

“Makanya saya memaksa lanjut SMP,” katanya.

Namun, setamat sekolah dasar, tak memungkinkan bagi remaja Bayong menikmati pendidikan sekolah menengah pertama dan menangah atas di pulau tempat tinggalnya. Karena di sana, saat itu, pada tahun 1999, hanya terdapat dua sekolah. Itu pun dua-duanya sekolah dasar: SD Pulau Kodingareng dan SD Inpres Pulau Kodingareng.

Baru pada tahun 2006 lalu, pemerintah kota Makassar akhirnya mendirikan sebuah SMP, yakni SMP Negeri 38 Pulau Kodingareng. Tepat saat Baygong menginjak semester enam bangku kuliah. Bangunannya menggunakan bangunan SD Pulau Kodingareng yang kini sudah ditutup pemerintah.

Jemari Baygong terus bergerak pelan. Ia kelihatan hati-hati. Satu persatu tempelan kertas huruf itu dilepasnya. Sampahnya dibuang begitu saja ke bawah meja. Kata ‘ekspedisi’ sudah tak ada. Ia melanjutkan kegiatannya itu ke kata berikutnya: Gabungan.
Baygong pun berkisah, karena memaksa ke Makassar dan menolak bekerja sebagai nelayan, oleh orang tuanya ia akhirnya dititipkan di Pondok Pesantren setamatnya dari SD Inpres. Harapan ayahnya, Baygong bisa menjadi seorang muballigh. Bisa berceramah di satu-satunya masjid di pulau Kodingareng, Masjid Nurul Jihad. “Istilahnya, tak jadi nelayan,ustadz pun boleh,” katanya sambil tergelak.

Tapi Baygong adalah Baygong. Seorang anak pulau yang ‘pemberontak’. Pendidikan madrasah tsnawiyah-nya (setingkat SMP) di Pesantren Gombara hanya diselesaikan hingga kelas 3. Selanjutnya, ia keluar dari pondok dan mengambil jurusan listrik di STM Gunung Sari. Selama menjalani pendidikannya di Makassar, Baygong mengunjungi keluarganya di Kodingareng hanya sekali setiap dua minggu.

Tahun 2004 lalu, Baygong mendaftar kuliah. Itu diputuskannya setelah meminta pertimbangan kedua orang tuanya. Karena menyadari keinginan Baygong yang begitu kuat untuk bersekolah, orang tuanya pun akhirnya merestui dan kembali membebaskan Baygong dari kewajiban bekerja menjadi nelayan.

“Ya, syukurah kuliah saya di sini lumayan lancar. Orang tua saya mulai mengerti pentingnya pendidikan dan mau berusaha mencarikan biayanya. Menjadi nelayan tidak bisa kaya, Kak. Miskin terus. Utang kiri, utang kanan. Saya prihatin melihat kehidupan nelayan di sana. Saya mau sekolah tinggi. Biar bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik supaya bisa bantu keluarga.”

Tak banyak pemuda Kodingareng yang dapat menyelesaikan pendidikan hingga ke bangku kuliah. Sepengetahuan Baygong, sampai saat ini Kodingareng hanya memiliki delapan putra pulau yang sudah meraih gelar sarjana.

“Kalau tidak salah, sekarang ini yang berstatus mahasiswa cuma dua orang. Saya salah satunya,” akunya.

“Lalu, kenapa ko dipanggil Baygong?” Tanya saya soal asal-usul nama panggilannya yang terdengar aneh.

“Namaku Faisal, Kak. Cuman karena ada dua orang nama Faisal di angkatanku, kakak senior waktu ospek akhirnya panggil saya Baygong,” jawabnya sambil melirik ke salah seorang kawannya.

*****

Advertisements

~ by thalibanspirit on 12/30/2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: