Bara’ Manusia Kebun


484156475l.jpg 

Bara’ seorang lelaki berdarah Bugis. Meski begitu, dia tak pernah mengakui garis keturunannya berdarah suku Bugis. Dia lebih senang menyebut dirinya sebagai orang Duri.

Duri adalah sebuah wilayah di kabupaten Enrekang, propinsi Sulawesi Selatan. Letak Duri berada di daerah pedalaman. Sekitar 270 kilometer dari kota Makassar. Atau dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih 7 jam.

Kabupaten penghasil sayur mayur itu sendiri, diapit dua kabupaten dan satu provinsi yang mewakili tiga etnis suku terbesar di Sulawesi selatan. Yakni, suku Toraja di Kabupaten Toraja, suku Bugis di kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Suku Mandar di Provinsi Sulawesi Barat.

Sebelum terbentuk menjadi provinsi, Sulawesi Barat adalah sebuah kabupaten. Wilayah itu dulunya bernama kabupaten Polewali Mamasa, biasanya disingkat Polmas. Dulu, Polmas berada di bawah naungan admisnistrasi pemerintahan provinsi Sulawesi Selatan.

Karena alasan kedaerahan yang membagi beberapa wilayah suku itulah, Bara’ sampai saat ini tidak mengakui dirinya sebagai seorang putera Bugis. Dia percaya, Duri adalah suatu wilayah transisi antara tiga suku, namun memiliki identitas kebudayaan tersendiri. Kata lainnya, Duri tidak termasuk suku Bugis, Toraja ataupun Mandar. Orang Duri bukan orang Bugis.

Namun entah darimana penamaan Duri untuk wilayah itu. Tak ada yang dapat memastikan. Tapi menurut beberapa sumber yang sama sekali tak layak dipercaya, sebutan Duri berasal dari kata ‘duri pohon salak’.

Pasalnya, daerah itu terkenal dengan tanaman pohon salaknya yang memang banyak tumbuh di situ. Ya, selain sayur, Duri juga penghasil buah terutama buah Salak. Namun sekali lagi, keterangan ini bisa jadi tidak valid. Karena berasal dari sumber yang keterangannya lumayan tak bisa dipertanggungjawabkan.

Masyarakat Duri adalah masyarakat yang sangat relijius. Mereka penganut Islam yang taat. Sebagian besar diantaranya, mengembangkan keyakinan dasar keagamaannya dengan bergabung dalam sebuah organisasi keislaman terbesar di dunia: Muhammadiyah.

Karenanya, jangan tanya kepada mereka soal ritual-ritual budaya. Mereka tidak mengenal itu. Yang mereka tahu, pola kehidupan harus berlandaskan agama yang terkonsepsikan secara moderen dan rasional. Dan mencampuradukannya dengan laku budaya adalah satu bentuk kemusyrikan yang tak terampuni dosanya. Prinsipnya, tak boleh ada ‘pengotoran’ budaya soal kemasyarakatan atas dua sumber laku keislaman: Al Quran dan Al Hadist. Agama membentuk budaya. Bukan budaya yang mempengaruhi agama.

Indoktrinasi itu kemungkinan besar mulai menguat pada era gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kahar Muzakkar di sekitar wilayah Kabupaten Luwuk, Enrekang dan sebagian wilayah Bugis di utara Sulawesi Selatan. Gerakan itu pada mulanya dicetus Kertosuwiryo di pulau Jawa, karena ketidakpuasan ideologi yang dianut bangsa Indonesia.

Pada zaman itu, seluruh manifestasi kebudayaan dan kesenian daerah yang dikuasai DI/TII dihancurleburkan. Upacara adat dihapus. Nyanyian dan tarian tak boleh ditampilkan. Dan seluruh simbol-simbol sosial budaya kemasyarakatan dilarang.
Semua aspek hanya boleh terimplikasi dalam satu bentuk: syariat Islam. Itulah yang menjadi sebab, sampai saat ini nyaris semua masyarakat Duri dikenal sebagi pribadi-pribadi taat beragama. Meski sebenarnya, tidak seluruh hal tersebut benar. Terlebih jika melihat kondisi kekinian di daerah itu. 

***

Bara’ memiliki karakter keras namun relatif tenang dalam menyikapi satu perihal. Khas kepribadian masyarakat pegunungan. Sifat itu barangkali turunan kedua orang tuanya yang berdarah Duri, sebuah wilayah pedalaman di lereng gunung Latimojong.

Dia tak pernah mengenal kompromi terhadap kesalahan sistem atas apa yang diyakininya. Meski begitu, terkadang dia juga terlalu permisif terhadap situasi yang menurutnya terlalu sulit, hingga membiarkan dirinya berputar dalam lingkaran apatisme. Mungkin ini sebagai karakter bentukan dari lingkungan kota tempatnya dibesarkan: Makassar. Sebuah kota yang masyarakatnya mengalami transisi fase status sosial.

Sejak dilahirkan hingga menginjak bangku sekolah menengah atas, Bara’ adalah pribadi yang ‘lugu’. Pengertian lugu itu lebih dimaksudkan dalam konteks hubungan asmara. Bara’ tak penah mengenal kata percintaan. Dia tidak pernah berpacaran.

Proses pacaran baru dikenalnya sejak menginjak bangku kuliah. Dan semenjak itulah petualangan cintanya dimulai. Satu persatu sejumlah nama wanita dia catatkan dalam daftar orang yang pernah dikasihinya ataupun mengasihinya.

Ada beberapa hubungan, memang, yang tidak terlalung dianggap serius. Bara’ memasukkan klasifikasi ‘tidak serius’ jika lama hubungan yang dijalinnya tidak lebih dari enam bulan. Begitu seterusnya. Klasifikasi ‘serius’ untuk hubungan yang mencapai dua hingga tiga tahun. Dan, ‘sangat serius’ untuk hubungan yang bisa melewati masa lima tahun.

Dulu, di awal petualangannya, Bara’ sangat meyakini jodoh seseorang ditentukan oleh diri sendiri. Bukan oleh campur tangan Tuhan, sebagaimana termaktub dalam kitab suci berupa kumpulan rahasia-rahasia Tuhan tehadap diri manusia. Kualitas dan kepastian hubungan, katanya, ditentukan oleh sebesar apa ‘daya nekat’ seseorang menjaga dan meyakini keabadian hubungan itu.

Namun, sejak mengalami sebuah peristiwa ‘sinetron’, dia akhirnya sadar, bahwa sesungguhnya jodoh benar-benar ketentuan Tuhan yang yang sangat terjaga bersama ketentuan-ketentuan lainnya, seperti saat kematian dan rezeki. Ketentuan-ketentuan itu mutlak tak diketahui manusia. Begitulah keyakinan Bara’ kini.

Sehingga, saat ditinggal nikah salah seorang pacarnya di awal tahun 2008, Bara’ akhirnya menjadi pribadi yang lain. Dia menjadi seorang pribadi yang, menurut standarnya sendiri, disebutnya memiliki kebesaran jiwa’. Hal itu  ditunjukannya dengan keikhlasan melepas kekasihnya untuk dipinang orang lain. Bahkan turut mengantarkan undangan pernikahan ke sejumlah kerabat dan kawan-kawannya.

***

Jumat subuh, tanggal 22 Desember, 29 tahun lalu. Saat itulah Bara’ pertama kali menghirup udara kehidupan dan memulai menjalankan amanah ilahiah di dunia. Kata orang-orang, hari Jumat adalah saat dimana Tuhan menurunkan ilmu pengetahuan ke umat manusia di muka bumi.    

Bara’ terlahir sebagai anak kedua. Orang tuanya adalah pasangan yang bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Makassar. Kakak Bara’ seorang perempuan. Antara keduanya terdapat jeda usia yang cukup panjang: tujuh tahun.

Tak ada harapan khusus, ketika Bara’ dilahirkan. Kedua orang tuanya, seperti orang tua-orang tua lainnya, hanya mengimpi Bara’ menjadi manusia yang berguna bagi agama, keluarga, bangsa dan negaranya. Sebuah harapan yang normatif, sebetulnya.

Bara’ menjalani masa kecil dengan penuh bahagia. Sebagai generasi pertama dari –yang kelak menjadi sembilan bersaudara– adik-adiknya, Bara’ mendapatkan apa-apa yang nyaris menjadi impian kebanyakan anak negeri yang terlahir dari keluarga marginal. Kesempatan berlibur, mainan berlimpah, sandang, kecukupan nutrisi, pendidikan dan kasih sayang, adalah beberapa diantara untuk menyebut kebahagiaan Bara’ itu. 

Orang tua Bara’ penyuka hewan ternak dan tumbuhan. Berbagai jenis hewan ternak tersebut dipelihara di halaman rumah keluarga mereka. Semua jenis ayam, bebek, ikan dan hewan-hewan yang mampu memberi kontribusi nyata terhadap pemenuhan protein keluarga, dikembangbiakkan.

Bara’ ingat, setiap pagi sebelum ke sekolah, Ummi, ibu Bara’, pasti menggorengkan satu ekor ayam puyuh untuk anak-anaknya dan meminumkan mereka telur-telur yang dihasilkan ayam puyuh itu. Namun karena kelebihan protein, Bara’ bersama adik-adiknya terkadang harus mengalami bisul di bagian dahinya. 

Mungkin karena kecukupan gizi itu, Bara’ menjadi anak yang cukup cerdas di sekolahnya. Prestasi tes akademiknya tidak pernah lewat dari ranking tiga. Begitu pula hasil tes pelajaran sehari-hari. Ibu dan Bapak gurunya hanya tahu menuliskan angka sembilan atau sepuluh di kertas ujian. Bara’ menjalani hari-harinya tanpa ada kesulitan hingga lulus sekolah menengah atas.   

Ada satu hal yang sampai saat ini Bara’ tak  mengerti. Dia mengalami suatu peristiwa yang dianggapnya sebagai suatu hidayah bagi manusia biasa. Jika dipandang dari konteks kenabian, mungkin itulah yang disebut mukzizat. Peristiwa itu tak mudah dan mungkin tak hilang dari bagian memori otak Bara’.

Terjadi di suatu hari Jumat siang pada tahun 1982. Saat itu Bara’ baru berusia empat tahun. Hari itu seperti hari-hari yang lain. Semua anggota keluarga berkumpul makan siang usai menunaikan shalat Jumat.

Setelah makan, Bara’ spontan mengambil selembar koran terbitan Makassar, edisi hari itu. Koran bernama ‘Pedoman Rakyat’ itu terletak di atas televisi hitam putih keluarganya. Dia kemudian bergerak ke arah keluarga yang sedang ngobrol usai makan. Bara’ lalu secara spontan membaca sebuah berita headline di koran itu. Bara’ lupa judulnya, namun satu yang dia ingat: berita itu menyangkut masalah ekonomi.

Seluruh anggota keluarga Bara’ terkejut. Bara’ yang masih berusia empat tahun, dan sebelumnya belum pernah diajar membaca, bahkan mengenali huruf sekalipun, mampu membaca sebuah berita dengan kelancaran setaraf kemampuan seorang anak yang sudah tak mengalami kesulitan membaca. Alias, sangat lancar.

Bara bisa membaca dengan baik. Bahkan sebelum masuk taman kanak-kanak. Tapi tidak begitu dengan kemampuan menggambarnya. Hingga kelas enam sekolah dasar, dia hanya mampu menggambar dua obyek yang sangat disukainya: gambar potongan seorang laki-laki yang mengenakkan sebuah topi bertuliskan ‘pers’ dan gambar sebuah pesawat pengangkut penumpang.

Entah, itu yang disebut gejala bakat alam atau bukan. Namun, sejak duduk di semester satu bangku kuliah hingga saat ini, dia sudah bekerja sebagai jurnalis di berbagai media massa di Indnesia. Dan tanpa tendensi apapun, setamat sekolah menengah atas dulu, dia mendaftarkan dirinya di sebuah perguruan tinggi dan mengambil jurusan jurnalistik.

Sekali lagi, entah ini yang disebut gejala bakat alam, tujuh tahun sejak memulai bekerja sebagai jurnalis, dia selalu ditempatkan di desk ekonomi. Sebuah sektor kehidupan yang sangat diminatinya dan merupakan topik bacaan pertamanya, saat mulai mampu membaca di usianya yang masih kecil dulu.
 

***
  

Bara’ adalah nama kecil. Nama panggilan. Nama sayang dari kakeknya, seorang tetua di kampung Duri. Bara’ dalam bahasa Duri berarti ‘kebun’. Sebuah tempat dimana tetumbuhan akan memberikan harapan dan kebahagiaan bagi manusia pemeliharanya. Bara’ mengimpi dia bisa menjadi kebun bagi keluarga, agama bangsa dan negaranya. Amin!

(Makasar, 10 Januari 2008. 03. 49 wita)
   

Advertisements

~ by thalibanspirit on 01/10/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: