John Rambo vs Hantu Jembatan Ancol


Penasaran mau melihat perut disobek-sobek sampai darahnya menyemprot kayak air leding di kebun? Suka dengan aksi pelor-pelor monster MK3 yang menembusi dada-dada orang? Atau, ingin menyaksikan endapan ranjau-ranjau yang mengoyak tubuh manusia menjadi potongan kecil daging sate?

Tak usah jauh-jauh berdarmawisata ke Iraq dan Afganistan untuk melihat keberingasan seperti itu. Tak usah juga mengenang saat-saat aksi genocide masih marak di muka bumi ini. Apalagi, membayangkan melakukan sendiri tindakan kriminal itu, agar bisa mengetahui langsung bagaimana rasanya mengoptimalkan penggunaan benda yang disebut teknologi senjata pembunuh.

Cukup di negeri kita. Di Indonesia. Negeri kita yang gemah ripah lo jenawi ini. Di sini kita bisa menyaksikan kesakitan itu. Tetapi bukan di Acheh. Bukan di Ambon. Juga bukan di Poso. Terlebih di pusat-pusat Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Lalu, dimana?

Di bioskop!

Ya, bioskop-bioskop Indonesia memang sedang mendapat kunjungan Oom Rambo. Kali ini dalam film Rambo IV. Silvester Stallone, bintang utama film itu, nyaru pakai nama John Rambo.

Aksinya luar biasa. Bunuh-bunuhan. Darah muncrat sana, muncrat sini. Wajah-wajah yang dingin. Swing-swingan peluru dari kaliber mini sampe yang udah di sunat. Mekar kelopak ledakan granat. Pokoknya seru!

Tapi saya heran, Oom Rambo yang terkenal dengan senjata panah dan belatinya, justru terlihat minim menggunakan kedua senjata itu di film ini. Panah misalnya, dia hanya sekali menampakkan membunuh musuhnya dengan senjata itu. Begitu juga belati. Hanya tampak pada saat adegan dimana Oom Rambo menusuk perut musuhnya setelah bersembunyi di balik sebuah pohon.

Tapi sepertinya tidak jadi masalah. Tertutupi wajah beringas Oom Rambo yang kali ini benar-benar tampak macho abiiissssss!  Apalagi dalam adegan sedang mengoperasikan senjata otomatiiissssss. Dengan darah yang mengucur di betiiissssss. Wah, luar biasiiissssss! Eh, luar biasa! Sayang, tidak ada adegan kiss…

Btw, kemarin saya sempat menonton film Indonesia. Judulnya seram, Hantu Jembatan Ancol. Isinya? Ah, benar-benar mengecewakan. Saya kira itu film horor. Ternyata film lucu. Dipaksakan lagi.
 
Untung saja penata suaranya teman SMA saya, Andi Yusuf Pattawari. Yah, setidak-tidaknya, untuk menghargai karyanya, saya cukup menutup mata agar bisa merasakan atmosfer ke-horor-an film itu. Kalau buka mata, bisa rugi. Saya beli tiket film horor. Bukan komedi.

Bagaimana kalau dibuat satu film, yang bercerita tentang perjuangan Oom Rambo melawan Hantu Jembatan Ancol saja? Saya bosan melihat Oom Rambo berperang dengan pasukan Viet. Lebih bosan lagi, melihat hantu-hantu Indonesia yang dieksplorasi habis-habisan dalam film tapi tidak pernah dapat royalti!
 

Advertisements

~ by thalibanspirit on 02/01/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: