Harian Pedoman Rakyat: Doeloe dan Kini


SEJARAH HARIAN PEDOMAN RAKYAT

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Pemerintah Belanda di bawah pimpinan Dr Van Mook, berupaya menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia dengan politik memecah-belah, lewat pembentukan negara bagian. Rakyat Indonesia ketika itu terpecah menjadi dua golongan, yakni Golongan Republikein yang konsekuen mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Golongan Federalis yang termakan pengaruh Van Mook.

Bagian timur Indonesia waktu itu disiapkan sebagai satu negara bagian diberi nama Negara Indonesia Timur (NIT). Karena berbagai reaksi menentang rencana itu, Belanda melarang kegiatan politik lewat partai-partai politik. Kaum Republikein tetap konsisten tidak mau bekerja sama dengan Belanda.

Salah satu jalan untuk tetap memperjuangkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, adalah melalui surat kabar. Maka, pada hari Sabtu, 1 Maret 1947 diterbitkanlah Majalah Tengah Boelanan: Pedoman. Pendirinya adalah Soegardo (1916 – 1955) dan Henk Rondonuwu (1910 – 1974). Majalah itu diterbitkan di Makasar sebagai suatu media perjuangan.

Kehadiran Pedoman ternyata tidak disenangi Pemerintah Belanda dalam NIT. Perjalanan Pedoman selanjutnya, penuh dengan intimidasi penjajah. Pertengahan tahun 1947, Pemerintah Belanda mengeluarkan keputusan mengusir Pimpinan Umum/Redaksi Pedoman, Soegardo dari wilayah NIT. Pedoman kemudian diteruskan pengasuhnya di bawah pimpinan Henk Rondonuwu sebagai Pemimpin Umum/Redaksi dan dibantu oleh beberapa reporter muda yang penuh vitalitas, antara lain LE Manuhua (almarhum). Pada saat itu, Pedoman yang semula terbit tengah bulanan meningkat menjadi minggoean.

Berkat dukungan positif dari masyarakat daerah ini, pada 17 Agustus 1948, selain Minggoean Pedoman, juga diterbitkan sebuah surat kabar harian diberi nama Pedoman Harian. Karena waktu itu Pemerintah Belanda tidak membolehkan percetakan untuk mencetak surat kabar, maka Pedoman Minggoean dan Pedoman Harian terbit stensilan.

Oktober 1948, Percetakan Drukkery Macasser membuka kesempatan kepada Minggoean Pedoman. Karena biaya cetak cukup tinggi, Pedoman hanya mampu cetak beberapa kali di percetakan tersebut.

Langkah berikutnya, Pemerintah Belanda kembali melancarkan intimidasi terhadap pers Republikein di daerah ini. Dengan alat judikatif, Belanda menuntut sejumlah penanggung jawab surat kabar, dengan tuduhan menghina Ratu Belanda. Henk Rondonuwu sebagai penanggung jawab redaksi Pedoman dan Pedoman Harian dihukum penjara tiga bulan. Minggoean Pedoman berhenti terbit untuk sementara, sedangkan Pedoman Harian tetap terbit.

Pedoman Nusantara

Tahun 1949, selain Pedoman Harian tetap terbit, diterbitkan pula Mingguan Pedoman Nusantara yang merupakan hasil merger (gabungan) dari Pedoman, Mingguan Nusantara, serta Mingguan Pedoman Wirawan sebagai gabungan dari Rubrik Pemuda pada Mingguan Pedoman dengan Majalah Pemuda Wirawan. Semua penerbitan itu diterbitkan Badan Penerbit Nasional Pedoman.

Harian Pedoman Rakyat

Fase perjuangan nasional terus meningkat. Pedoman dan Pedoman Harian tetap terbit karena dua media ini kebetulan tidak dilarang Pemerintah Belanda.

Suasana politik berubah ketika penyerahan kedaulatan tahun 1950. Para pengasuh Pedoman dan Pedoman Harian sudah menganggap bukan waktunya lagi meneruskan penerbitan ini dalam bentuk stensilan, apalagi Percetakan Drukkery Macasser memberi kesempatan cetak lagi bagi Pedoman dan Pedoman Minggoean.

Mulai November 1950 diterbitkanlah harian Pedoman Rakyat sebagai gabungan semua penerbitan sejak Tengah Boelanan Pedoman 1 Maret 1947. Maka mulailah Pedoman Rakyat berjalan dibawah kendali Pimpinan Umum/Pimpinan Reaksi, LE Manuhua.

Seiring dengan pemakaian nama baru, juga berubah bentuk menjadi surat kabar umum (broadsheet) dengan cetak offset. Rencana penerbitan itu memiliki percetakan sendiri sejak 1948 baru terwujud pada 1952/1953. Pemerintah prafederal saat itu memberikan bantuan lima unit mesin percetakan pers didatangkan dari luar negeri.

Pada mulanya lisensi satu unit percetakan itu diberikan kepada Badan Penerbit Nasional Pedoman, tetapi ada perubahan suasana politik. Pemerintah mengubah keputusan menyerahkan kepada tiga penerbit nasional di Makassar, yakni tiga harian, masing-masing Pedoman Rakyat, Marhaen, dan Sulawesi Bergolak.

Percetakan Sulawesi

Tiga harian ini kemudian membentuk PT Penerbitan dan Percetakan Sulawesi, diresmikan 17 Agustus 1953. Setelah peresmian, Sulawesi Bergolak berhenti terbit, sehingga pengelolaan percetakan dan penerbitan tersebut dilanjutkan oleh Pedoman Rakyat dan Marhaen.

April 1959, status PT Percetakan Sulawesi dialihkan secara sewa beli kepada Pedoman Rakyat dan Marhaen. Percetakan milik pemerintah itu menjadi milik sepenuhnya PT Percetakan Sulawesi tahun 1970. Badan Penerbit Marhaen kemudian melepaskan hak turut sertanya tanggal 1 Mei 1972, dengan menjual sahamnya kepada Pedoman Rakyat (Firma Perak).

PERKEMBANGAN PEDOMAN RAKYAT

Pasca kepemimpinan LE Manuhua, sekitar pertengahan 1990-an, harian ini memasuki babak baru dengan dibentuknya struktur jabatan direksi. Harian Pedoman Rakyat mendapati masa keemasannya pada tahun 1980-an, yang mampu berproduksi hingga 25 ribu eksamplar perhari.

Sebelumnya, Pedoman Rakyat di bawah kendali Pemimpin Umum/Redaksi LE Manuhua, namun setelah itu dibentuk struktur baru dengan Direktur Utama yang pertama JB Pinontoan, dibantu Hasanuddin Tahir alias Tatang sebagai Direktur I.

Beberapa tahun kemudian dilakukan pergantian direksi. Ventje S Manuhua, yang tidak lain anak kandung LE Manuhua dipercaya menjabat Direktur Utama PT Media Pedoman Jaya. Ventje dibantu Direktur I Luthfi Qadir, dan Direktur II Ardhy Basir. Setelah itu, Komisaris dan para pemegang saham sepakat mengangkat Peter Gozal sebagai direktur utama dan beberapa orang baru lainnya sebagai direktur I dan II.

Sejak awal 2007, harian Pedoman Rakyat mengalami pasang surut. Harian ini pernah tidak terbit antara bulan Februari dan Maret 2007 selama 40 hari. Namun setelah diupayakan, harian ini akhirnya bias terbit kembali pada tanggal 2 April 2007. Terbitnya harian ini dipelopori wartawan dan karyawan, dengan pelaksana dirut Ventje S Manuhua.

Rubrik

Pada saat masih terbit, Harian Pedoman Rakyat hingga berkantor di gedung berlantai empat Jl Arief Rate No 29, Makassar.

Terbit 20 halaman setiap hari (edisi Minggu untuk sementara tidak ada), Pedoman Rakyat menawarkan sejumlah rubrik halaman, yakni Metropolitan (berita-berita kota dan kriminal), Opini (artikel, tajuk rencana, Surat Pembaca, dan rubrik lanskap setiap edisi Senin), Politik & Hukum, Otomotif (hal 6 edisi Senin), Teknologi Informasi (hal 6 edisi Selasa), Properti (hal 6 edisi Rabu), Polisi Kita (hal 6 edisi Kamis), Mimbar Jumat (hal 6 edisi Jumat), dan Renungan (hal 6 edisi Sabtu).

Selain itu juga ada rubrik Ragam (aneka berita/sambungan dari halaman 1), Juku Eja (PSM dan sepakbola nasional), Sports (posteral/olahraga umum), Sport (olahraga umum), Bola (sepakbola internasional), Bisnis (berita-berita ekonomi), Sulsel (berita-berita daerah se-Sulawesi Selatan), Dunia (berita-berita internasional).

Selanjutnya ada rubrik halaman Humaniora (pendidikan, kesehatan, agama, sosial, seni, budaya), Indonesia Timur (berita-berita kawasan timur Indonesia), Layanan Umum, dan Infotainment (dunia artis dan hiburan).

Tidak Terbit

Meski sempat terbit kembali pada tanggal 2 April 2007, namun ternyata hal itu hanya bertahan hingga bulan September 2007. Sejak tanggal 3 Oktober, harian ini kemudian mengalami ‘kematian kedua’. Sejak saat itu sampai sekarang, Pedoman Rakyat tak pernah terbit kembali.

Menurut Asnawin, salah satu wartawan harian Pedoman Rakyat, kematian Pedoman Rakyat lebih disebabkan karena ketidakmampuan Ventje Manuhua menjaga eksistensi penerbitan. Mungkin ada hubungannya dengan latar belakang Ventje yang memang bukan wartawan. Berbeda dengan ayahnya, LE Manuhua, yang merupakan wartawan tulen. Asnawin bahkan menyebut dalam suatu artikel di blognya, “Pedoman Rakyat mati karena kebodohan dan ketamakan Ventje.”

Ventje adalah anak LE Manuhua, mantan Pimpinan Umum Pedoman Rakyat. Sejak LE Manuhua wafat, Ventje-lah yang meneruskan kepemimpinan harian itu hingga memasuki fase tidak terbit.

Asnawin mengatakan LE Manuhua adalah orang yang berjasa menjaga Pedoman Rakyat dari berbagai tindakan intimidasi pemerintah kolonial Belanda, sehingga mampu bertahan hidup dan tetap terbit hingga beliau wafat pada tahun 2003. LE Manuhua dikenal sebagai salah seorang tokoh pers nasional.

Sebaliknya, Asnawin menilai Ventje terlalu bodoh untuk menjadi Direktur Utama atau pun Pemimpin Umum sebuah harian umum. Celakanya, ketika terbukti tak mampu mengembangkan harian Pedoman Rakyat, dia tidak juga mau memberi kesempatan kepada orang lain atau orang yang profesional dalam mengelola sebuah perusahaan surat kabar.

Bagi Ventje, kata Asnawin, lebih baik mati bersama Pedoman Rakyat daripada menyerahkan pengelolaan surat kabar tersebut kepada orang lain. Aksi unjukrasa dari wartawan dan karyawan yang memintanya mengundurkan diri dan menyerahkan pengelolaan harian Pedoman Rakyat kepada orang lain tidak digubris. Akhirnya, Pedoman Rakyat memang benar-benar mati.

MASALAH INTEREN

Pada tanggal 26 Februari 2007, sejumlah karyawan dan wartawan Harian Pedoman Rakyat, menggelar aksi unjuk rasa, Mereka meminta kejelasan pembayaran gaji atau honor, yang belum terbayarkan.

Dalam aksinya, mereka membentangkan spanduk bertuliskan permintan kepada pihak perusahaan dan pemegang saham, untuk segera membayarkan gaji mereka, selama kurang lebih Tiga bulan.

Pemimpin Redaksi Harian Pedoman Rakyat, HL Arumahi dalam wawancaranya dengan Harian Ujungpandang Ekspress, mengatakan tidak terbitnya Pedoman, kurang lebih satu minggu, dikarenakan tidak adanya toleransi pembayaran yang diberikan pihak percetakan.

Kesepakatan kerjasama yang dibangun selama ini, setiap bulan pembayaran dilakukan sebanyak dua kali. Dengan kata lain, terjadi tarik menarik antara pembayaran percetakan dan gaji karyawan.

Menanggapi persoalan terkait keterlambatan pembayaran gaji selama tiga bulan, dia menjelaskan, hal itu bukan menjadi sebuah persoalan bagi karyawan. Pasalnya beberapa tahun lalu, hal sama juga pernah dirasakan. Bahkan hingga Empat bulan gaji tersebut belum diterima.

Di harian Ujungpandang Ekspress juga, wartawan senior Pedoman Rakyat, Alex Waccado, mendesak pihak perusahaan untuk sesegera mungkin membayar gaji para karyawan, yang selama Tiga bulan ini belum terbayarkan. “Kalau gaji karyawan sudah dibayarkan, itu kita terima, tapi dengan Satu syarat, ada beberapa anggota yang harus disingkirkan,” ungkapnya, tanpa mau menyebutkan siapa nama anggota tersebut.

Menurut Roy Abdul Qadir, salah satu wartawan Pedoman Rakyat, selain gaji karyawan, media itu juga dihimpit masalah kepentingan antara manajemen lama dan manajemen baru. Hal itu terjadi setelah komisaris dan para pemegang saham sepakat mengangkat Peter Gozal sebagai dirut dan didampingi tiga direktur, yakni Direktur Pemberitaan dan Pengembangan Asdar Muis RMS, Direktur SDM Luthfi Qadir, dan Direktur Keuangan Badaruddin.

Pengangkatan Peter Gozal, yang juga pemilik radio SCFM, dilakuan setelah ia mengakuisis nyaris 100 persen kapital Pedoman Rakyat. Sebelumnya, terdengar kabar bahwa Media Fajar Group yang akan membeli harian itu.

Namun menurut Buyung Maksum, wartawan Fajar yang turut hadir bersama Komisaris Media Fajar Group, Alwi Hamu di Jakarta, saat pembicaraan akuisi manajemen Pedoman Rakyat menolak bentuk ‘bantuan’ Fajar. Ketika itu, kata Buyung, Jawa Pos dalam hal ini Fajar Group menawarkan bantuan mesin cetak, pengadaan kertas dan tinta, serta upgrading Sumber Daya Manusia (SDM). Sebaliknya, manajemen Pedoman Rakyat meminta bantuan dalam bentuk dana cair.

Peter Gozal menjawab permintaan manajemen Pedoman Rakyat. Kabarnya, ia menyiapkan dana sebesar 5 milyar rupiah untuk membeli harian itu. Akan tetapi, menurut Buyung Maksum, selanjutnya Peter Gozal hanya menyediakan dana 2 milyar rupiah. Hitungan Peter, jumlah tersebut mampu menghidupkan harian Pedoman Rakyat beberapa bulan sambil mengubah format. Tapi dalam kenyataannya, harian itu hanya mampu bertahan tiga bulan. Lalu setelah itu, seperti kata Asnawin, “Pedoman Rakyat benar-benar mati.” Sampai saat ini.

 

WAFATNYA PENDIRI HARIAN PEDOMAN RAKYAT:

LAZARUS EDUARD MANUHUA

Pendiri harian Pedoman Rakyat yang terbit di Makassar, Lazarus Eduard Manuhua, meninggal dunia dalam usia 78 tahun, di Rumah Sakit Hikmah Makassar, Selasa malam 25 November 2003, akibat stroke yang telah dideritanya sejak tahun 1991. Tokoh pers kelahiran Ambon, 4 Juni 1925 yang biasa disapa para kerabatnya Tete, ini meninggalkan delapan anak, enam putri dan dua putra. Istrinya, Johanna Leonora Wacanno, telah berpulang lebih dulu tahun 1996.

Jenazah wartawan senior ini dimakamkan di Pemakaman Kristen Antang pada Rabu, 27 November, setelah disemayamkan di rumah duka Jln. Cenderawasih I No. 12 Makassar. Tokoh pers nasional penerima Bintang Mahaputra Utama RI (1996) ini dikenal sebagai seorang tokoh pers yang karismatik dan profesional. Ia akan gusar jika di koran lain ada berita bagus, namun di korannya sendiri (Pedoman Rakyat) tidak ada.

Manuhua menjadi wartawan sejak tahun 1943 di Kota Ambon untuk mingguan Sinar Matahari. Sebelum menjadi wartawan mingguan tersebut, dia beberapa kali mengirimkan artikelnya. Artikel pertama yang dimuat Sinar Matahari, yang kemudian selalu menjadi kebanggaannya itu, berjudul Apa Kewajiban Pemuda Indonesia. Ia menjadi redaktur di Sinar Matahari sampai tahun 1947. Setelah hijrah ke Makassar, pada 1 Maret 1947 dia mendirikan Pedoman Rakyat, koran tertua di Makassar. Sampai akhir hayatnya ia menjabat Pemimpin Umum Pedoman Rakyat.

Ia juga sempat menjadi Wakil Pimpinan Antara Makassar (1967-1970), Ketua PWI Cabang (1948) dan Ketua PWI Pusat (1988). Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua kebaktian Rakyat Indonesia Maluku Makassar (1948-1950). Berbagai partai politik pun sempat diikuti, seperti Partai Indonesia Merdeka Ambon (1947) Partai Kedaulatan Rakyat (1948).

Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ambon, Maluku. Sampai menyelesaikan Balai Pendidikan (Taman Siswa) tahun 1941, ia tetap di Ambon. Kemudian melanjutkan studi di Fakultas Sospol Unhas dan selesai 1988.

Penerima penghargaan ‘Pena Emas’ dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) juga memperoleh penghargaan Penegak Pers Pancasila (1989) saat menjabat pemimpin redaksi Pedoman Rakyat.

Dalam kepemimpinan, ia memandang aset paling utama dari sebuah penerbitan pers adalah sumber daya manusianya. Oleh karena itu, selain memberikan yang terbaik bagi karyawan, ia juga mengupayakan kenyamanan kerja dengan membangun kantor Pedoman Rakyat berlantai lima. Saat itu kantor harian Pedoman Rakyat termasuk paling besar di KTI.

Menurut Dahlan Abubakar, pemimpin Redaksi Pedoman Rakyat , di mata karyawannya, Tete termasuk orang yang sering berlaku unik di kantor. Ia sering berdiri mengintai di belakang wartawan yang sedang menulis berita. Kalau ada kesalahan dia baru menegur.

Pemimpin yang senang berburu binatang ini sangat akrab dengan karyawan dan wartawan. “Tak ada sekat antara kami dengan dia,” kata Dahlan. Begitu pula menyangkut disiplin, Tete sangat peduli bahkan pertama kali kena stroke tahun 1991, ia tetap masuk kantor. “Profesionalitas inilah yang hilang di kantor ini sekarang,” tuturnya.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama mengenang Manuhua sebagai tokoh pers yang moderat dan independen. “Sikap independen dan moderat yang menjadi ciri kategori koran-koran menemukan personifikasinya pada diri Lazarus Eduard Manuhua,” kata Jakob Oetama dalam buku Abdi Pers LE Manuhua: Dari Ambon Ke Makassar Untuk RI, sebuah buku yang diterbitkan tahun 1996 untuk menyambut 70 tahun usia Manuhua.

Dalam buku yang sama Tribuana Said, tokoh pers lainnya, menyebutkan, “Pak Manuhua mempunyai rasa kebersamaan dan kesetiakawanan yang tinggi antarsesama pers.”

Nama: Lazarus Eduard Manuhua
Lahir: Ambon, 4 Juni 1925
Meninggal: Makassar, 25 November 2003
Agama: Kristen
Jabatan:
Pendiri dan Pemimpin Umum Harian Pedoman Rakyat

Isteri:
Johanna Leonora Wacanno (meninggal tahun 1996)
Anak:
Delapan orang

Pendidikan:
Pendidikan (Taman Siswa) tahun 1941 di Ambon
Fakultas Sospol Unhas 1988

Karir:
Redaktur Sinar Matahari (1943-1947)
Wakil Pimpinan Antara Makassar (1967-1970)
Pemimpin Umum Pedoman Rakyat (1947-2003)
Ketua PWI Cabang (1948)
Ketua PWI Pusat (1988)
Ketua Kebaktian Rakyat Indonesia Maluku Makassar (1948-1950)
Partai Indonesia Merdeka Ambon (1947)
Partai Kedaulatan Rakyat (1948)

Penghargaan:
‘Pena Emas’ dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
Penegak Pers Pancasila (1989)
Bintang Mahaputra Utama RI (1996)

Alamat:
Jln. Cenderawasih I No. 12 Makassar.

Sumber:
Harian Fajar dan Kompas 27 November 2003

 

Feature Andreas Harsono:

Ritual L.E. Manuhua

Ada sebuah ritual kecil di satu sudut kota Makassar. Tiap pagi seorang lelaki tua, badannya lumpuh separuh, duduk di atas kursi roda, menghabiskan waktu dengan menunggu para tukang koran. Dia duduk saja, menatap jalanan, sembari mendengarkan kicau jalak Bali atau kecerewetan burung-burung parkit di halaman rumahnya.

Rambutnya agak ikal, tapi sudah tipis dan berwarna putih. Bila koran datang, biasanya satu per satu, maka lelaki berusia 77 tahun itu pun mulai membaca harian Pedoman Rakyat, Kompas, dan Fajar.

Bukan kegiatan mudah karena ia hanya memakai satu tangan membolak-balik halaman demi halaman. Tangan kanannya lumpuh. Ia menggunakan tangan kiri tapi tetap diperhatikannya masing-masing halaman dari balik kacamata tebalnya. Dua jam dihabiskan buat membaca suratkabar.

Lelaki itu bernama Lazarus Eduard Manuhua, biasa disingkat L.E. Manuhua, seorang wartawan senior, yang terkenal karena lama memimpin harian Pedoman Rakyat di kota Makassar. Suatu pagi yang cerah awal Februari lalu, dia memulai ritualnya dengan memperhatikan judul utama Pedoman Rakyat “Pelita Air Tergelincir di Mandai.” Sekitar 15 menit kemudian Kompas datang dengan judul, “Wapres Minta Pembangunan di Puncak Dihentikan.” Bolak-balik dengan pelan, sesekali minta anaknya membantu, dan sekitar 20 menit berikutnya tukang koran mengantar harian Fajar dengan judul utama, “PDIP Minta Mega Pecat Kesowo.”

“Dulu ketika saya masih kecil, saya sudah baca laporan-laporan perjalanannya bersama Pak Harto ke luar negeri,” kata Aidir Amin Daud dari Lembaga Studi Informasi dan Media Massa, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang media di Makassar.

Manuhua memang salah satu wartawan terhormat yang ada di negeri ini. Ia mulai bergabung dengan Pedoman Rakyat dari mulai terbit stensilan pada 1947 –dua tahun sesudah Perang Dunia II usai. Waktu itu bergabung dengan Pedoman bukan pilihan mudah, dan secara finansial tidak menguntungkan, karena sebagian besar negara dunia, termasuk Belanda, belum mengakui proklamasi kemerdekaan oleh duet Sukarno-Moh. Hatta.

Tapi pilihan Manuhua berpihak ke Jakarta, pada saat Belanda ingin memperkuat Negara Indonesia Timur dengan ibukota Makassar, membuat Manuhua jadi incaran dinas rahasia Belanda. Tapi secara tak langsung, menurut keterangan A. Moein MG dari Makassar Press, pilihan Manuhua juga mengurangi stereotype kalangan orang Bugis, etnik dominan di sana, bahwa orang Ambon adalah “Belanda hitam.” Manuhua membuktikan bahwa stereotype adalah sesuatu yang salah.

Manuhua memang kelahiran Maluku dari ayah Ambon dan ibu Jawa. Pada 1947, ketika lulus sekolah dan masih belajar jadi wartawan, nyong Ambon ini lari dari Ambon ke Makassar karena diincar Belanda.

Maka mulailah karirnya di bidang jurnalisme. Ia meliput banyak peristiwa bersejarah dari masalah Republik Maluku Selatan hingga jadi saksi buat mengenali jasad Kahar Muzakar dari Darul Islam ketika Muzakar tertembak mati dalam operasi militer awal 1965.

Pada 1980-an Pedoman Rakyat mencapai salah satu puncak keberhasilannya ketika terbit hingga 25 ribu eksemplar. Manuhua juga ikut mendirikan PT Percetakan dan Penerbitan Sulawesi yang termasuk modern. Kini menurut putra sulungnya, Ventje Manuhua, harian Kompas juga dicetak di sana sekitar 10 ribu tiap hari.

Manuhua dikenal karena prinsip kewartawanannya. Beberapa tahun lalu ia menulis, “Dalam kategori mana pun ia digolongkan, menurut hemat saya, seorang wartawan haruslah jujur dan berani menegakkan kebenaran. Di situlah letak harga dirinya serta derajat moralnya. Ia harus dapat mengabdikan diri bagi suatu cita-cita yang besar yang menyangkut kepentingan banyak orang apalagi kepentingan suatu bangsa.” Prinsip itu ditulis Manuhua dalam otobiografinya Dari Ambon ke Makassar untuk R.I.

Tapi Manuhua bukan saja seorang reporter. Dia juga seorang penerbit atau pengusaha. Pada 1984 Manuhua bersama koleganya dari beberapa suratkabar daerah, antara lain Surabaya Post, Haluan (Padang), dan Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), mendirikan kantor perwakilan bersama di Jakarta di mana kepentingan mereka mencari iklan, mendapatkan kertas serta mengumpulkan berita bisa dikerjakan bersama lebih murah. Usaha ini cukup berhasil walau kritisi mengatakan suratkabar-suratkabar itu tetap kurang kompak. Mereka masih sulit membereskan manajemen internal mereka.

Termasuk yang dikritik adalah peranan Manuhua dalam Persatuan Wartawan Indonesia dan Dewan Pers selama rezim Orde Baru. Dua institusi ini lebih banyak dimanfaatkan rezim represif Presiden Soeharto ketimbang melawannya secara efektif. Manuhua tak berbuat banyak dalam mencegah pembusukan kedua institusi tersebut.

Stroke ringan pertama menghantamnya ketika Manuhua selesai rapat Dewan Pers di Jakarta pada 1991. Dia masuk rumah sakit. Manuhua pun harus berhenti merokok dan mengubah caranya bekerja –yang penuh disiplin dan sangat keras itu. Padahal harian Fajar milik Jawa Pos News Network, yang terbit di Makassar sejak 1981, pelan-pelan mulai menyaingi Pedoman Rakyat. Bahkan pada 1993 sirkulasi Fajar mulai menyalib kebesaran Pedoman Rakyat.

Stroke kedua menghantamnya pada 1997, setahun setelah istrinya, Johanna Leonora Manuhua, meninggal dunia. Krisis ekonomi juga menambah beban pikiran Manuhua. Ia juga sibuk menyiapkan cetak jarak jauh harian Kompas. “Papi jarang kontrol kesehatan,” kata putri bungsu Liza Manuhua.

Dalam otobiografinya, Manuhua menggambarkan kehidupan rumah tangganya dengan gaya pasangan kuno. Mereka menikah dan dikarunia enam anak perempuan dan dua laki-laki. Joke, panggilan akrab Johanna, jadi ibu rumah tangga penuh waktu dan Manuhua kerja total di luar. Mereka menikah selama 46 tahun. Ketika Joke meninggal dunia, sahabat-sahabat Manuhua bercerita, Manuhua sangat terpukul. Dia merasa Joke adalah bagian dari dirinya. Sering kali Manuhua masih merasa Joke masih ada di sampingnya, membukakan pintu bagi tamu-tamu yang hadir di rumah mereka.

Stroke ketiga menyerang pada 2000 di rumah. Sejak itu pula Manuhua mengalami kesulitan berjalan. Dia memilih menyepi di rumahnya di Jalan Cenderawasih I/12. Dia bahkan tak datang ke kantornya lagi. Sirkulasi Pedoman makin menurun, Fajar makin meningkat.

Menuru Ventje, kegiatan bapaknya hanya tinggal di rumah dan “ke kuburan mami.” Manuhua juga mengalami kesulitan bicara dan menulis.

“Eeeeeennnnaaaaaaapa …?” ucapnya, ketika ingin tahu kejelasan sebuah kalimat.

Air mata terkadang keluar sesudah ia tak bisa mengemukakan apa yang diinginkannya. Wicara jadi soal berat. Terkadang ia ingin kencing tapi orang tak paham sampai Manuhua kencing di celana.

“Papi lebih suka diam,” kata Liza.

Ritual kecil ini berakhir pada jam 8 ketika Liza membawanya masuk rumah buat mandi. Sesudahnya nonton televisi. Jam 10 masuk tidur dan jam 12 makan siang. Jam 2 hingga jam 4 sore tidur. Petang hari nonton televisi, mandi dan makan malam. Jam 7 malam Manuhua masuk kamar, tidur, dan akan memulai ritualnya lagi esok jam 6 pagi. Ritual seorang wartawan tua.

Sumber 1. Asnawin (pedomanrakyat.blogspot.com, landskappedoman.blogspot.com)2. Andreas Harsono (andreasharsno.blogspot.com)

3. Buyung Maksum (Wartawan Harian Fajar)

4. Mediacare.com

5. Roy Abdul Qadir (Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

6. Wikipedia.com

Advertisements

~ by thalibanspirit on 02/06/2008.

2 Responses to “Harian Pedoman Rakyat: Doeloe dan Kini”

  1. Terima kasih atas pemberitaannya.

  2. please can some one tell about alex wacanno brother of joke wacanno istrinya sir manuhua.
    because this two person joke & alex wacanno are my sister & brother!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: