Tawakkal? Alhamdulillah…


15 menit lagi menjelang pukul 1 siang. Bandara Internasional Hasanuddin, Makassar, hiruk pikuk oleh lalu lalang ribuan calon penumpang. Dengung suara mereka silih berganti dengan desing mesin-mesin jet pesawat yang mendarat atau melesat terbang.

5 menit kemudian, terdengar suara petugas informasi menyampaikan pengumuman. Ternyata pesawat yang ditumpangi seorang kawan saya dari Yogyakarta sudah tiba. Saya segera bersiap-siap menyambutnya di pintu kedatangan penumpang.

“Hei! Assalamu alaikum, Kak”

Saya mengenal suara itu. Meski belum melihatnya, saya sudah tahu yang menyapa adalah kawan yang dari tadi saya tunggu-tunggu. Saya lalu membalikkan arah tubuh ke muasal suara tadi. Banyak penumpang yang berbondong. Namun saya langsung bisa mengenalinya.

“Hei, Bu Dokter! Waalaikum salaam. Apa kabar? Gimana perjalanannya?”

Kami berjabat tangan. Setelah itu dia menyerahkan sebuah kopor bawaannya untuk aku bawa. Kopor lainnya, dia yang pegang. Bersama dua buah tas jinjing.

“Baik, Kak. Cuaca cerah banget…” Jawabnya tersenyum sambil memperbaiki jilbabnya yang agak bergeser.

Memang, sepekan terakhir di bulan Januari ini, curah hujan di Makassar sedikit berkurang. Begitu aku menjelaskan kepadanya. Jadi wajar kalau dia mendapati penerbangan cukup lancar di bandara yang terkenal dengan ketidakstabilan cuacanya ini.

“Oke kalau gitu. Kita langsung ke rumah bawa barang-barang kamu. Trus, kita cari makan. Bagaimana?”

“Siip, Kak… aku lapeer.”

“Tempat biasa, kan?”

“Tawakkal, Kak?”

“Iya.”

“He he he… Alhamdulilah. Makan enak, nih.”

*****

30 menit lagi menjelang pukul 3. Rumah makan yang kami tuju sudah hampir tutup. Setiap hari Rumah makan itu hanya buka mulai pukul sembilan pagi hingga pukul tiga sore. Kami nyaris telat.

Tawakkal, sang pemilik, sedang berdiri di depan rumah makan ketika kami tiba. Laki-laki berusia 40 tahun itu mengipas-ngipasi tubuhnya yang kegerahan setelah seharian membakar ikan. Begitu melihat saya, dia langsung tersenyum.

“Masukki’…” Katanya mempersilahkan saya masuk.

Saya berjalan masuk melewati deret meja pembakaran ikan. Meja itu diletakkan di bagian luar rumah makan, dua orang bertugas membakar ikan di situ. Kawan saya, Yayuk, mengikuti dari belakang. Kami memilih duduk di meja sebelah selatan. Dekat anak tangga menuju lantai dua. Seorang karyawati kemudian menyerahkan menu. Karyawan perempuan itu, salah seorang dari 20 karyawan yang bekerja di rumah makan Tawakkal.

Tawakkal mendekati kami. Dia menanyakan apakah kami membutuhkan sesuatu. Saya menggeleng pelan sambil tersenyum. Dia pun menarik satu kursi dan duduk di dekat saya. Saya lalu meperkenalkannya ke kawan yang saya ajak kali ini.

Rumah makan Tawakkal adalah langganan tempat saya mengajak kawan-kawan makan ikan. Termasuk Yayuk, kawan saya yang berprofesi sebagai dokter di Yogyakarta itu. Di situ, tersedia berbagai macam menu dari hewan air yang sebenarnya tidak lebih istimewa dari rumah makan lainnya yang ada di Makassar. Seperti ikan bandeng, baronang, cepa, lamuru, cumi, udang, dan pepes usus bandeng.

Sayur yang tersedia hanya sayur santan. Sambalnya pun hanya satu macam. Kalau menginginkan menu lain, akan disiapkan. Tapi dengan syarat memesan sehari sebelumnya dan dalam jumlah tertentu.

Tapi satu hal yang membedakan rumah makan Tawakkal dengan rumah makan lainnya. Yakni, hidangan sup jeroan ikan. Menu inilah yang dianggap istimewa oleh para pelanggan setianya. Bahkan, beberapa pelanggan akan membatalkan pesanannya jika hidangan yang satu itu habis atau tidak tersedia. Menu itu pula yang disukai kawan saya itu.

Selain sup jeroan ikan, rumah makan Tawakkal memiliki ciri khas. Di sinilah pertama kali diperkenalkan menu ikan bandeng terbelah. Hidangan itu disajikan kepada pelanggan setelah sebelumnya ikan bandeng dibelah untuk kemudian diolah. Namun, saat ini sudah banyak pengusaha rumah makan lain ikut-ikutan menyajikan menu tersebut.

Rumah makan Tawakkal memang terkenal dengan masakan ikannya. Tempatnya terletak di Paotere, sebuah lingkungan dermaga dan tempat pelelangan ikan. Dari segi lokasi, sebenarnya kurang menarik. Di situ truk lalu lalang tiada henti, jauh dari pusat kota Makassar, bahkan lingkungan sekeliling rumah makan tidak dapat dimasukkan kategori enak, asri, elite atau semacamnya.

Tapi Tawakkal adalah Paotere dan Paotere adalah Tawakkal. Pelanggan setianya tidak pernah mempermasalahkan lingkungannya. Yang penting, Tawakkal masih menyediakan menu spesial kepada mereka.

Setiap orang yang ingin makan di kawasan Paotere, dapat dipastikan menuju ke rumah makan Tawakkal. Banyak pejabat, pengusaha dan selebritis Jakarta, keluar masuk rumah makan ini. Apalagi harganya relatif murah, Rp6 ribu per porsi. Dengan jumlah itu, kita sudah bisa menikmati sepotong ikan bandeng lengkap dengan sambal dan lalap, semangkuk sayur, dan sepiring nasi plus segelas air dingin.

Karena permintaan yang banyak, dalam sehari rumah makan itu harus mempersiapkan ikan minimal 500 ekor. Pada hari-hari tertentu jumlahnya bisa lebih banyak. Ini hanya untuk kebutuhan rumah makan, belum termasuk kalau ada pesanan atau panggilan ke sejumlah acara.

“Saya punya nelayan dan tambak sendiri hingga harga ikan bisa ditekan. Saya bahkan punya tiga nelayan yang saya pekerjakan khusus mencari ikan,” kata Tawakkal.

*****

Sambil makan kawan saya, Yayuk, memerhatikan sekeliling. Interior rumah makan itu, katanya, sangat sederhana. Terbilang biasa saja. Bahkan ruangannya tak dilengkapi pendingin. Namun dia heran, pelanggan yang datang jumlahnya banyak.

“Itu karena Tawakkal memperlakukan pelanggannya seperti kita ini. Penuh keakraban,” Kata saya menjawab keheranannya.

Siang itu, Tawakkal memang sedikit lama menemani kami berbincang. Dia bercerita banyak, sambil sesekali melempar senyum ke pelanggan lain. Tak jarang Tawakkal meninggalkan kami sebentar, untuk mengantarkan langsung pesanan atau membakar ikan jika karyawannya sedang sibuk.

“Tamu-tamu di sini sudah seperti teman,” kata Tawakkal setelah kembali menghampiri kami.

Dan kendati sudah memiliki puluhan karyawan dengan pembagian tugas yang jelas, Tawakkal tetap saja merasa perlu turun tangan. Segala kesedarhanaan yang ada pada rumh makannya, pelayanan dan hubungan yang akrab dengan para tamu, telah menjadi magnet yang menarik orang untuk tidak bosan berkunjung ke Paotere.

Namun, seperti kata Tawwakkal, tidak mudah membangun rumah makannya hingga menjadi seperti sekarang. Tawakkal sudah mendirikan rumah makan sejak 30 tahun lalu. 10 tahun pertama adalah tahun-tahun yang sulit baginya. Masuk 20 tahun terakhir barulah dia bisa mendongkrak omzetnya dari ribuan per hari menjadi Rp7 juta per hari.

“Rumah makan ini milik paman saya. Semula hanya berlantai tanah

berdinding kayu dan menampung 20 orang. Tempat duduknya pakai bangku kayu

yang memanjang. Dulu pengunjungnya rata-rata nelayan, pedagang sayur keliling, dan pedagang di pasar,” ujarnya.

Sekarang rumah makan kecil itu jadi rumah makan dua lantai, berdinding batu dengan lantai keramik, dan kapasitas 75 kursi. Pengunjungnya pun berubah. Bukan lagi orang yang berbau ikan campur keringat, tapi sudah berdasi, berjas, dan berbau wangi parfum.

“Awalnya ini setengah warung makan, setengah warung kopi. Karena tempatnya persis di depan pelelangan ikan, kami tidak menyediakan ikan, hanya nasi, sayur, dan sambel. Orang-orang datang membawa sendiri ikannya dan kami tinggal membakar,” kisah Tawakkal.

Saat itu terjadi antara tahun 1979-1986, Tawakkal belum jadi pemilik melainkan pekerja di warung milik pamannya ini. Tawakkal memang bekerja membantu pamannya sejak SD hingga SMU. Pada tahun 1986, bersamaan dengan pindahnya pelelangan ikan, warung ini akhirnya meninggalkan pola lama. Orang tak bisa lagi membeli ikan di pelelangan dan membawanya ke warung karena jaraknya yang sudah agak jauh. Sejak tahun itu pula perlahan-lahan semuanya berubah.

Kesempatan untuk mengubah rumah makan ini makin terbuka saat Tawakkal memperistri anak pamannya tahun 1996. Apalagi saat itu dia sudah menyelesaikan studinya di sebuah Lembaga Perbankan jurusan Manajemen Perbankan. Hubungan baik yang dibinanya dengan semua orang termasuk dengan Ande Abdul Latif, pengusaha perjalanan haji asal Makassar, akhirnya membuahkan hasil. Saat tahun 1997 Ande mengelola Persatuan Sepakbola Makassar (PSM), Tawakkal diberi kesempatan menyediakan dan mengatur menu makanan untuk para pemain PSM. Saat inilah yang menjadi tonggak bagi perjalanan usaha rumah makannya.

“Saya mengakui Pak Ande banyak membantu saya. Dia mengajak saya makan ke rumah-rumah makan besar di Makassar dan Jakarta, agar saya bisa belajar. Dari situ pula saya tahu bahwa pelayanan itu penting untuk menjaga pelanggan,” katanya.

Kini sudah banyak yang meminta Tawakkal membuka cabang, terutama di Jakarta.

“Untuk sementara di Makassar saja dulu. Saya takut tidak akan bisa memberikan yang terbaik kalau sudah ada cabang. Kalau buka cabang berarti saya harus bolak-balik Jakarta-Makassar, nanti malah kacau. Kalau sudah mantap betul, insya Allah, saya akan buka cabang,” janjinya.

 

***

Yayuk mengusap mulutnya dengan selembar kertas tisu yang disiapkan di atas meja. Wajahnya berkeringat. Nafasnya putus-putus. Dia tampak sangat kekenyangan.

“Khas orang Indonesia…,” kata saya ingin menggoda.

Yayuk tertawa terbahak-bahak. Diseruputnya air dingin untuk mengusir rasa gerah setelah makan.

“Ya iyalah, Kak. Masakannya enak banget.”

Beberapa menit kemudian, saya lalu beranjak ke meja kasir. Tidak lebih dari Rp.30 ribu yang saya harus bayar.

Setelah itu, saya menuju Tawwakal yang sedang berdiri dekat pembakaran. Saya katakan kepadanya, saya ingin mengajak Yayuk mengelilingi kota Makassar. Yayuk harus tahu, Makassar tidak saja menjadi surga kuliner. Tetapi juga surga pariwisata. Tawwakkal tersenyum mendengarnya. Dia mengantar kami keluar.

***

Advertisements

~ by thalibanspirit on 02/06/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: