Gatal


 

Jam meja di kamar sudah menunjukkan pukul 1 dinihari, ketika saya membuka pintu dan langsung melemparkan diri ke atas kasur. Namun meski sudah larut malam, rasa kantuk ternyata tak juga segera datang untuk mengantarkan saya tertidur.

Saya pikir, mungkin ini disebabkan karena tiba-tiba tiba saja badan saya terasa pegal, setelah menghempaskan tubuh ke atas kasur yang tak lagi empuk itu. Mungkin ada benarnya juga. Tapi ternyata, sebabnya lebih dikarenakan rasa gatal yang saya alami tak lama setelah saya berbaring. Oh, rupanya kasur itu sudah menjadi istana yang nyaman bagi ribuan serangga mikro yang memang hobi mengigit tubuh manusia. Saya teringat, sudah sebulan kasur itu belum pernah saya jemur.

Saya pernah menonton sebuah tayangan di stasiun televisi Trans7, dua pekan lalu. Sebuah tontonan tentang pola kehidupan mahluk mikroba di muka bumi. Mereka tumbuhkembang di nyaris semua tempat yang kita gunakan. Ada yang berjalan-jalan di wc. Ada yang mencari makan di hamparan karpet. Ada yang  beranak di lipatan pakaian. Dan tentu saja, ada juga yang tertidur di kasur. Seperti kasur yang saya tempati itu.

Tiba-tiba saja saya kegelian membayangkan serangga-serangga itu, yang ada di dalam kasur saya, ternyata tidak tidur. Mungkin saja mereka malam ini saatnya berpesta, dan karenanya menggigit-gigiti tubuh saya yang sudah kelelahan dengan taring-taring tajamnya. Uh, betapa mengerikan. Ingin rasanya saya mengambil cairan racun serangga kemudian dengan ganasnya membunuhi mereka secara massal.

Tapi rupanya saya kemudian tidak memusingkan apa yang dilakukan serangga pengganggu itu. Karena ternyata sisa energi yang saya miliki tersedot membayangkan kembali film horor yang baru saja saya tonton. Film itu benar-benar berhasil membikin detak jantung saya berdegub beberapa kali lebih kencang.

Film itu berjudul Tali Pocong Perawan. Film, yang dalam setiap tagpromo-nya menjanjikan bakal menjadi film paling horor di tahun 2008. Film itu memenuhi janji. Saya benar-benar jantungan dibuatnya.  Bukan cuma karena aksi pocongnya yang memiliki keterampilan terbang kesana kemari yang sangat baik. Tetapi juga karena di situ ada Dewi Persik. Lebih tepatnya, keseksian yang dimiliki Dewi Persik. Perannya membuat adrealin kelaki-lakian saya meningkat. Persis seperti selera makan saya yang selalu menanjak ketika melewati sebuah warung coto Makassar. 

Seperti kesukaan saya makan coto yang tanpa ampun, akhir-akhir ini saya benar-benar keranjingan nonton film di bioskop. Semua judul film saya babat habis. Mulai dari genre humor, horor, drama hingga action. Produksi orang Indonesia atau pun filmmaker asing. Dari yang pertunjukan sore, malam hingga midnight. Dan itu sudah berjalan sekitar enam bulan. 

 

Saya pikir ini sudah menjadi sebuah kegilaan yang nyata. Setidaknya kegilaan menurut parameter yang saya miliki. Bagian sebagian orang, hobi nonton di bioskop adalah hal biasa. Terutama orang-orang yang berkantung tebal karena duit. Bagi saya? Tentu saja itu masih tidak lumrah. Ya, itu tadi. Karena parameter saya adalah parameter orang-orang yang kantungnya tebal berisi lembaran-lembaran kuitansi tagihan!

Tapi tak apalah. Mungkin ini gejala saja. Gejala yang menunjukkan bahwa saya harus bisa melatih diri terbiasa dengan gaya hidup top-level. Ini mungkin juga sebagaian dari manifestasi hasil perenungan saya setelah sekian lama berputar pada lingkaran kemarjinalan. Bahwa, tak selamanya hidup dipasrahkan untuk terinjak dengan penderitaan dan segala tetek bengeknya. Tetapi sebaliknya, ada beberapa saat tertentu dimana kita akan berada di bagian atas pada sebuah perputaran roda. Seperti kata Ari Lasso dalam judul lagunya: Badai Pasti Berlalu. Dan karena itu, saya perlu latihan menghadapi kehidupan tanpa badai!

Saya ingat saat-saat masa kecil antara tahun 1984-1991. Saat itu Departemen Penerangan Republik Indonesia, yang biasa disingkat Deppen RI, masih ada. Institusi yang pernah dipimpin Harmoko itu sedang gencar-gencarnya menyuarakan kampanye pembangunan bangsa melalui pemutaran film layar tancap. Pemutarannya pada malam hari. Salah satu lokasi yang kerap dijadikan tempat pemutaran film adalah lapangan sepak bola di depan rumah saya.

Saya tak pernah melupakan masa-masa itu dan selalu mengenangnya. Karena menonton layar tancap merupakan alternatif di tengah minimnya pilihan tononan hiburan. Tak ada pilihan lain, memang. Karena Cuma TVRI saja yang beroperasi kala itu.

Berbekal sarung dan duit seratus rupiah, saya sudah sangat menikmati suasana itu. Duit seratus rupiah itu saya belikan sebungkus kacang goreng, yang kadang membuat saya kehausan.

Suasana benar-benar ramai. Orang-orang berbondong menuju lapangan. Hanya karena ingin menyaksikan laga Brama Kumbara dan Mantili dalam film berjudul Saur Sepuh. Tapi seingat saya, film-film musikal Rhoma Irama yang paling sering diputarkan. Lebih sering lagi film G30SPKI. Sebenarnya, nyaris kesemua film itu sudah saya saksikan di TVRI sebelumnya. Tapi tak apalah. Yang penting suasana nonton di lapangan lebih ramai. Apalagi nontonnya sambil makan kacang goreng.

Di lapangan, ketika sedang menonton, kulit saya sering terasa gatal. Bukan hanya saya. Hal itu juga dialami beberapa kawan dan keluarga saya yang turut ramai ke lapangan. Selain nyamuk, saya yakin ada binatang rumput yang berupaya mengganggu kebahagiaan para penonton layar tancap itu. Kebahagiaan yang kami dapatkan setelah jemu melihat pesan-pesan resmi yang disampaikan TVRI kala itu.

Rasa gatal itulah yang kini kurasakan kembali. Bukan di lapangan. Tapi di atas kasur. Namun anehnya, sesaat setelah puas mengenang semua memori itu, menjelang tidur akan menjemput, rasa gatal kemudian pelan-pelan mereda. Pandangan saya mulai mengabur. Namun begitu, penglihatan saya masih cukup jelas jutaan mikroba itu berbaris, berjalan dari kasur menuju dinding kamar. Saya melihat binatang-binatang mikroba itu berkumpul dan membentuk diri menjadi sebuah layar tancap. Layar yang sangat lebar. Sangat besar. Serupa layar bioskop.

Mereka menempel di dinding. Teratur rapi.  Tiba-tiba mereka mulai memutarkan saya sebuah film. Bukan aksi Brama Kumbara yang saya tonton di situ. Bukan juga akting Rhoma Irama. Apalagi cerita bengis DN. Aidit. Sama sekali bukan.

Aktor film itu ternyata diri saya, yang memainkan kisah hidup saya sendiri. Adegan demi adegan kehidupan saya pun berputar silih berganti. Tapi tak ada dialog. Tak ada suara. Hanya isak tangis binatang-binatang mikro itu yang sayup-sayup memasuki lubang pendengaran saya. Melihat film saya itu, saya hanya bisa mengucap istighfar…

Met bobo…
Saya udah ngantuk…

                                               *****

Advertisements

~ by thalibanspirit on 04/16/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: