Dari Pemburu Berita ke Pemburu Rupiah


Entah spirit apa yang kemudian merasuki diriku, setelah berbicara panjang dengan Nunung malam itu. Karena dua hari setelahnya, aku kemudian membuat keputusan yang mengejutkan keluargaku: aku meninggalkan pekerjaanku di dunia jurnalistik dan total menggeluti dunia bisnis.

Tak mudah memang. Karena sudah sepuluh tahun terakhir, karakter dan kemampuanku, terbentuk dan teruji di bidang jurnalisme. Aku sudah bekerja di berbagai jenis media massa, mengikuti nyaris ratusan pelatihan pemberitaan dan penulisan, mengenal banyak orang, menjelajah banyak tempat, bahkan hampir menyerahkan nyawa saat bertugas di kerusuhan Ambon demi kebangganku pada dunia yang kugeluti itu.

Bukan waktu yang singkat untuk bisa serta merta meninggalkannya. Tapi itulah keputusan. Dan itulah aku: seorang laki-laki yang selalu tidak konsisten, tapi lebih selalu keras pada hal-hal yang prinsipil. Termasuk soal pilihan jalan hidup.

Banyak kawan yang menyesalkan.  Banyak kenalan yang bertanya-tanya. Ada yang mendukung.  Tak sedikit yang pesimis. Tapi sekali lagi, begitulah selalu setiap keputusan dalam kodratnya. Karena keinginan setiap jiwa manusia tidak diciptakan seragam. Masingmasing memiliki kadar penilaian idealitas sendirisendiri.

 

48 jam. Itu waktu yang singkat untuk berfikir merubah jalan hidup, setelah ribuan jam berdarah-darah di dunia yang dikagumi sebagian orang-orang. Lalu memasuki sebuah ranah lain yang masih baru bagiku dan sebenarnya, menurut orang-orang, lebih kejam dari apa yang pernah aku alami.

 

Setiap bidang memiliki tantangan tersendiri. Setiap tanah memiliki langit. Dan tanah berani ‘menerima’ apa saja yang tercurah dari langit. Bagiku, filosofi tanah itu merupakan bentuk kekuatan yang sebenarnya termanifestasi pada diri kita masing-masing. Kita mampu menerima curahan air, terjangan badai, terik matahari dan gigil kelam malam.

 

Kita mampu menerima tantangan-tantangan itu, kemudian mengubahnya menjadi sebuah level kehidupan yang lebih berkualitas. Seperti tanah yang menerima terjangan langit, lalu mengubahnya menjadi sumber-sumber kesuburan yang tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri. Tetapi dibagikan kepada mahluk lainnya.

 

Kita mampu menjadi manusia rahmatan-lil-aalamiin: manusia yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. Seperti tanah. Dari bidang apa saja. Pada usia berapa pun. Aku yakin, Tuhan sudah menginstankan potensi itu.

 

 

 

***

 

Aku memiliki banyak teman yang telah mengambil keputusan berani dalam kehidupannya. Salah satunya adalah sari Desrina.  Beberapa tahun lalu, Ia memutuskan menjadi pebisnis travel sehari setelah ia terangkat menjadi karyawan tetap di sebuah lembaga perbankan. Keputusannya menjadi kontroversi antara dirinya dan keluarganya, sekaligus menciptakan atmosfer skeptisme di antara mantan kawan-kawan kantornya.

 

Tapi ia tidak akan melakukan itu tanpa sebuah landasan. Desrina memiliki modal yang melebihi nilai sebuah kapital usaha berapapun jumlahnya: sebuah keyakinan yang kuat; sebuah optimisme bahwa semua bentuk kehidupan bergantung pada strategi manajemen kita sendiri. Karena itu, ia meninggalkan statusnya sebagai ‘anak-buah’, beralih ke dunia lain yang menempatkan dirinya sebagai pimpinan. Setidaknya sebagai pimpinan bagi dirinya sendiri.

 

Aku memahami pemikirannya. Dan aku, tanpa menyangkali sedikitpun, terinspirasi darinya.

Satu perbedaan antara aku dan Desrina, adalah bahwa dia  mengambil keputusan di usia yang terbilang masih sangat muda: sekitar tahun ke-20. Sementara aku baru mewujudkan keinginan vital ini di usia menjelang 30 tahun. Usia, dimana menurut sebagian orang adalah fase pemantapan karir setelah proses pembelajaran dunia kerja.

 

Tapi tidak ada kata terlambat.  Karena terlambat sesungguhnya adalah proses yang tertunda. Sebuah kurva turunan yang bakal menanjak.  Dan menurutku, keterlambatan itu dapat dipacu dengan optimalisasi potensi pada diri manusia: kemampuan untuk melihat persoalan, mengkaji, memahami dan menjadikannya sebagai tapak pijak menuju puncak keberhasilan. Keberhasilan yang sesuai dengan takaran kadar idealitas kita masingmasing.

 

 

 

***

 

Entah apa yang ada dibenakku malam itu. Tapi malam-malam berikutnya, semua telah menjadi jelas bagiku. Bahwa kemana pun haluan berpindah arah, kapal akan tetap meninggalkan buih jejak. Kutetapkan diriku sebagai seorang entrepreneur, namun tetap akan menulis cerita-cerita naratif. Kita masih perlu saling belajar dari kisah orang lain…   

 

 

Advertisements

~ by thalibanspirit on 09/08/2008.

2 Responses to “Dari Pemburu Berita ke Pemburu Rupiah”

  1. seriuskooo…tegamu meninggalkan teman2 pers…

  2. Saya setuju kak… Saya percaya, tiap orang yang telah kita temui akan memberikan pengalaman dan pelajaran yang bermakna dan berbeda-beda.

    “Kita masih perlu belajar dari kisah orang lain..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: