Kabar Malam


Pukul 24.15, waktu kotaku. Aku baru saja meneguk se-sloki Jack Daniels di sebuah kafe milik seorang teman. Hangat cairan itu masih menjalar di tenggorokan, ketika ponselku berbunyi. Aku melirik ke layar ponsel. Hendra, yuniorku di kampus, menelpon.

Jantungku berdegub. Aku selalu percaya, berita kurang baik akan terdengar dari balik speaker ponsel yang berbunyi di atas pukul 24. Entah mengapa aku memercayai hal bodoh seperti itu. Mungkin karena lebih dari satu pengalaman dalam cerita-cerita hidupku. Dan benar saja, sekali lagi ponselku menghantar sebuah berita buruk.

“Ya, Halo… Kenapa partner?”

“Bang, sudah dengar kabarnya Agnes?”

“Kabar apa? Kenapa dengan Agnes?”

Lalu meluncurlah berita tak mengenakkan itu, serupa suara air anak sungai yang bergemericik menabrak bebatuan. Hendra memberitahu, bahwa Agnes berada di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit di Samarinda. Agnes, kata Hendra, mengalami kecelakaan dua hari yang lalu. Ia menabrak sebuah mobil yang terparkir di sisi jalan, saat pulang kantor. Sepeda motor yang dikendarainya hancur.

Informasi awal itu membuatku tercekat. Alkohol memengaruhi detak jantungku. Saraf-sarafku bereaksi secara ekstrim.

Hendra kemudian menjelaskan, bahwa Agnes kritis. Ia sempat mengalami koma selama beberapa jam. Meski pada akhirnya situasi sulit itu mampu dilewatinya, namun aku tetap bersedih mendengarnya. Karena ketika siuman, Agnes sudah tak ingat lagi sosok orang-orang terdekatnya. Ia tak mengenal keluarga dan sahabat-sahabatnya. Mungkin karena benturan di bagian kepala, hingga berujung amnesia.

Hendra menutup pembicaraan setelah menampaikan detil kejadian itu. Aku mengucapkan terima kasih, lalu tertunduk. Mataku terpejam. Kenangan bersama Agnes berkelindang. Serupa cahaya lampu kendaraan yang mengiris-iris gelap malam.

Kami pernah mengikat komitmen dengan menyatukan dua hati, beberapa waktu lampau. Dan kini, meski sudah berpisah, kami tetap menyatukan dua hati, dalam bentuk yang berbeda. Aku tersenyum, insiden bandara itu pasti kan terhapus dari memorinya. Ia tak akan pernah lagi mengungkitnya dan terus menyalahkanku, karena lupa mengantarkannya ke bandara saat akan pulang ke Kalimantan.

Tapi, aku juga merasa sedih: ia pasti tak akan mengingatku lagi. Ia tak akan pernah lagi mengingat, ada Akbar yang pernah menjadi kekasihnya dan kini menjadi sahabatnya.

Agnes, aku berharap kamu cepat pulih, dear…

Advertisements

~ by thalibanspirit on 09/08/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: