Maaf dan Selamat Jalan


Dia datang ke rumahku saat hari telah petang. Kami samasama diam, waktu itu. Aku membisu, karena aku mengenalnya sebagai sosok yang populer. Terkenal, disukai banyak orang. Sementara dia tak berkata apa pun. Karena dia tak tahu –dan tak akan pernah tahu– detildetil pribadiku.

Aku tak menawarkan tangan. Begitupun dia. Kami tak saling berjabat sebagai tanda perkenalan, sebagaimana lazimnya dilakukan orangorang di muka bumi ini. Aku hanya sibuk memandangi tubuhnhya yang terbungkus kilap kulit hitam dengan papan nama berwarna keperakan. Dia, aku pikir, juga tak memerdulikan siapapun aku.

Tidak jadi masalah jika dia tak mengenalku. Karena bagaimanapun, untuk harihari berikutnya, dia akan menjadi asistenku. Dia tak perlu mengenal siapa pimpinannya, kukira. Tapi sebaliknya, aku harus tahu bagaimana sosok yang akan membantuku. Aku harus tahu kemampuannya agar kelak ia tidak meyulitkanku. Ia boleh saja terkenal di luar sana. Tapi di rumahku, ia adalah pembantuku. Dan begitulah tujuan aku mengeluarkan sejumlah uang untuknya.

Namun sejak kedatangannya itu, aku memberinya perlakuan yang cukup istimewa. Ia kupersilahkan berada di bagian mana saja di rumahku. Termasuk di atas meja yang aku buat sendiri. Setiap hari kuperhatikan penampilannya. Tak kuizinkan satupun debu melekat di tubuhnya. Sebagai sosok populis, ia tak boleh tampak kumal.

Tidak sembarang mahluk berada di atas mejaku. Mereka adalah mitramitraku yang terpilih. Yang aku anggap memiliki kontribusi besar terhadap progres dan ritme kehidupanku.  Berada di atas mejaku berarti status sosial yang amat tinggi. Boleh jadi, itulah kebanggan mereka.

Beberapa lama berikutnya, aku malah menjadi gamang. Ia yang awalnya kuanggap berstatus sebagai bawahan, justru berbalik arah. Aku mulai mengidolakannya. Aku benarbenar benar suka kepadanya. Aku cinta dia.

Aku tak bisa mengendalikan diri. Aku makin kagum dengan sosoknya. dia memiliki memori yang besar dan kuat. Dia memunyai kekuatan super yang didedikasikannya untuk membantuku dalam banyak hal. Penampilannya semakin membuatku terpesona. Ia memiliki aura keistimewaankeistimewaan yang membuatku kagum tak kepalang. Serupa seorang perempuan, dia telah berhasil membuatku mabuk kepayang.

Aku kemudian berpikir hal ini tak boleh dibiarkan. Aku tak boleh tak bisa mengendalikan situasiku sendiri. Dia, seperti awalnya, adalah bawahanku. Sekali bawahan tetap bawahan. Tak mungkin seorang pimpinan melayani bawahannya. Itu melawan kodrat ilahiah.

Dia tak perduli. Beberapa waktu berikutnya, aku tetap dibiarkannya berputar dalam kepusingan. Hingga akhirnya aku tiba pada satu titik pemahaman, bahwa kami ternyata setara. Kami adalah partner. Kami adalah dua sahabat yang saling membantu. Aku bukan pimpinannya. Diapun bukan bawahanku.

Aku pun mahfum mengapa dia begitu terkenal dan dicintai banyak orang, meski dia sesosok yang tak pernah mau peduli pada rasa hati. Dia ternyata memberikan kasihnya dalam bentuk yang lain. Dalam bentuk kelengkapan kemampuan. Bagiku, ia seperti prossedant giant dalam dongengdongeng masa lampau: angkuh, memiliki kekuatan mumpuni. Namun mudah diperdaya oleh tangantangan yang memiliki jiwa.

Aku akhirnya mematikan perasaanku…

 

***

 

Kemarin aku membuka halamanhalaman koran. Kutemui sosok lainnya. Perasaanku berulang: aku jatuh cinta. Aku mungkin tipe manusia yang tak kuat berkomitmen.  Terlebih, sisi rasio dalam otakku terus mendesak setelah melihat sosok di halaman koran itu. Aku ingin memilikinya. Sosok itu lebih memesonakanku.

Aku memutuskan mengganti sahabat yang selalu menemaniku itu. Kukembalikan dia  ke pemilik sebelumnya. Sama seperti awal pertemuanku dengannya, diapun hanya bisa bisu. Tak ada titik airmata di wajahnya. Tak ada garis kekesalan ataupun rasa kecewa, setelah kucampakkan dirinya.  Aku memang kadang tak memiliki hati. Tapi apa boleh buat. Sosok lain telah menggantikannya dalam anasir hayalanhayalanku tentang masa depan.

Maafkan aku sahabat.

Terima kasih sudah membantuku selama ini.
Selamat Jalan Laptop Acer 4920ku…

 

Selamat datang  hp-Presario V3737
Mari, kita mulai bekerja… 

 

Ting! )

Advertisements

~ by thalibanspirit on 09/08/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: