TV Kita. Salahkah?


Sebenarnya tidak sepenuhnya benar untuk menyalahkan siapa-siapa. Karena program acara itu dibuat Produser dan rumah-rumah produksi berangkat dari riset pasar; berdasar hukum pasar. Barang apa yang laku dipasaran, itulah yang dijual; tayangan apa yang DOMINAN digemari rakyat Indonesia dan ratingnya tinggi, itulah yang diproduksi. Dan tontonan yang saat ini memiliki rating tinggi di program televisi Indonesia adalah sektor hiburan (entertainment). 

Tapi kemudian, set ini menjadi semacam ‘lingkaran setan’. Masyarakat penonton butuh tayangan cerdas untuk merubah pola pikir dan memajukan wawasan. Namun di satu sisi, masyarakat sendiri ‘tidak menuntut’ tontonan seperti (yang dibutuhkan) itu. Kenapa? Karena penonton kita adalah penonton irasional. Penonton yang mengedepankan selera.

Situasi ini tentu saja menjadi ladang bagi kapitalis-kapitalis produksi acara televisi Indonesia. Televisi adalah bisnis menggiurkan yang mendatangkan keuntungan bejibun, selain untuk membiayai biaya produksi yang jumlahnya juga minta ampun. Seorang petinggi RCTI pernah menginformasikan kepada saya, saat pelatihan jurnalistik di Ambon 2005 lalu, RCTI harus mengeluarkan biaya operasional rata-rata Rp50 juta per jam. Alokasi biaya itu antara lain untuk pembayaran listrik, perawatan alat dan lain-lain yang ia tidak sebutkan secara detail, diluar biaya produksi program acara.

Jadi siapa yang salah kalau situasinya seperti itu?

Ya memang, ada juga pihak yang mengatakan bahwa pengelola televisi memiliki kekuatan merubah selera pasar, karena televisi adalah medium trendsetter. Dengan asumsi ini, diharapkan pengelola televisi memiliki kesadaran memproduksi tayangan-tayangan yang dinilai bermutu atau mencerdaskan. Tapi konkritnya bagaimana? Merumuskan tayangan sesuai konsep bermutu dan mencerdasakan di Indonesia, rasa-rasanya tindakan yang sia-sia. Ya karena itu tadi, pola pikir masyarakat yang irasional dan pola siaran televisi Indonesia yang sudah menjadi sistem (Saya sepenuhnya menyalahkan RCTI dan SCTV sebagai televisi swasta pertama yang telah meletakkan dasar-dasar yang tidak tepat bagi sistem siaran pertelivisian swasta selanjutnya).

Beda dengan Amerika. Coba kita lihat VOA. Beberapa waktu lalu di Metro TV, VOA menayangkan liputan dalam soal pemilih segmen menengah di Amerika. Realitasnya, fenomena itu ada juga di Indonesia. Liputan itu menurut saya bagus sekali, dan saya nilai dapat memberi wawasan dan pendidikan politik bagi masyarakat kita di sini. VOA bisa seperti itu, karena penonton Amerika menginginkan itu. Tapi yang lebih penting, siaran itu juga disukai masyarakat luar negeri Amerika. Mereka mampu membuat program yang tidak saja di’jallai’ orang Amerika, tapi juga orang Enrekang seperti saya.

Jadi… Nda taumi juga. Karena saya juga suka nonton sinetron. Judulnya Diva. Pemeran utamanya Nirina Zubir. Tayang di SCTV… hehehe… promosi mi sedeng….

Advertisements

~ by thalibanspirit on 09/08/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: